JOGJA – Direktur Utama PSIM Jogja, Yuliana Tasno, menyoroti perubahan positif dalam sikap dan mentalitas suporter Laskar Mataram sepanjang kiprah tim di Liga 1 atau BRI Super League 2025/2026. Ia menilai dukungan yang lebih dewasa menjadi modal penting PSIM dalam menghadapi ketatnya persaingan di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
Salah satu momen yang paling membekas bagi Yuliana terjadi saat PSIM bermain imbang melawan PSBS Biak pada akhir Desember lalu. Meski gagal meraih kemenangan, atmosfer stadion tetap hangat dengan nyanyian dan dukungan suporter yang terus mengalir dari tribun.
Menurut perempuan yang akrab disapa Ci Liana itu, suasana tersebut menjadi bukti nyata adanya perubahan besar dalam cara suporter menyikapi hasil pertandingan.
Dukungan Tetap Mengalir Meski Hanya Imbang
Yuliana mengaku menyaksikan langsung laga tersebut dan membandingkannya dengan pengalaman PSIM saat masih berlaga di Liga 2. Ia menilai, pada masa lalu, hasil imbang kerap memicu reaksi keras dari suporter.
“Kalau berkaca ke Liga 2, dulu hasil imbang saja bisa sangat reaktif. Tapi kemarin meski hanya imbang dan lawan juga berada di bawah PSIM di klasemen, tim tetap dinyanyikan dan didukung. Itu perubahan besar,” ujar Yuliana, Kamis (22/1/2026).
Perubahan perilaku suporter itu membuat manajemen merasa terharu sekaligus optimistis menatap masa depan PSIM di Liga 1.
PSIM Simbol Kebanggaan Jogja
Yuliana menegaskan bahwa PSIM Jogja bukan sekadar klub sepak bola, melainkan simbol kebanggaan masyarakat Yogyakarta yang seharusnya didukung dalam kondisi apa pun.
“Ini bukan bicara individu. Ini klub yang mewakili Jogja dan kita cintai bersama. Dengan hasil apa pun seharusnya tetap didukung, apalagi setelah 18 tahun penantian akhirnya PSIM bisa berada di kasta tertinggi,” tuturnya.
Ia berharap mental positif dari tribun dapat terus terjaga agar menjadi kekuatan tambahan bagi tim di lapangan.
Tekankan Pola Pikir Positif dan Rasa Syukur
Tak hanya untuk suporter, Yuliana juga menekankan pentingnya pola pikir positif di internal manajemen PSIM Jogja. Ia mengaku selalu mengingatkan agar tidak melontarkan pernyataan negatif saat hasil pertandingan tidak sesuai harapan.
“Saya selalu ajarkan ke teman-teman manajemen, jangan mengucapkan hal-hal negatif. Mengeluh atau berkata buruk sama saja seperti memberi kutuk pada klub kita sendiri,” tegasnya.
Menurutnya, kepercayaan, doa, dan optimisme yang dijaga secara konsisten kerap memberikan dampak positif pada laga-laga berikutnya.
Perjalanan Panjang Liga 2 Jadi Pelajaran Berharga
Lebih lanjut, Yuliana menilai perjalanan panjang PSIM di Liga 2 justru membentuk mental seluruh elemen klub untuk lebih menghargai setiap pencapaian yang diraih saat ini.
“Saya malah bersyukur PSIM sempat lama di Liga 2. Dari situ kita belajar bahwa kondisi sekarang benar-benar harus disyukuri. Ini karunia yang tidak mudah didapat, jadi harus kita jaga bersama,” pungkasnya.
















