mainbola.co – Suasana khidmat menyelimuti kawasan Stadion Mandala Krida, Jogjakarta, Selasa (16/5) malam. Ratusan suporter PSIM Jogja tidak menggelar konvoi atau menyanyikan chant, melainkan melakukan laku topo bisu tepat pada malam 1 Suro.
Aksi ini merupakan bentuk keprihatinan mendalam karena PSIM Jogja belum bisa menggunakan Stadion Mandala Krida sebagai home base pada kompetisi Super League musim 2025/2026. Hal tersebut merupakan buntut dari kasus korupsi renovasi stadion.
Penggagas aksi, Andre Miliran, mengungkapkan bahwa gerakan ini lahir dari kegelisahan suporter yang merindukan marwah tim. “Sebagai suporter PSIM, kami tidak bisa melihat tim main di Mandala Krida karena ada kasus korupsi. Mandala Krida adalah nyawa kami. Di sana kami dilahirkan, dirawat, dan dibesarkan,” ujar Andre di sela-sela aksi.
Momentum malam 1 Suro dipilih karena dianggap sebagai waktu yang sakral. “Diam bukan berarti kita kalah, tapi itulah doa tertinggi. Apalagi di malam bulan Suro ini adalah momen yang paling tepat agar Yang di Atas mendengarkan doa kami,” tegasnya.
Aksi yang diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan kidung Jawa di Wisma PSIM ini, kemudian dilanjutkan dengan berjalan mengitari stadion.
“Kami kelilingi Mandala Krida karena kami meminta pertolongan kepada Yang di Atas agar segera bisa direalisasikan (kembali ke Mandala Krida). Karena adik-adik sangat berharap sekali,” imbuh Andre.
Selain sebagai upaya “ketuk pintu langit”, Andre menekankan bahwa aksi ini menjadi ajang introspeksi massal. Ia ingin menghapus stigma negatif suporter sepak bola dengan pendekatan budaya.
“Kami yang selama ini sering naik motor bleyer-bleyeran di jalan, seenaknya saja. di malam ini kami introspeksi. Dengan kebudayaan ini, kami tunjukkan bahwa suporter PSIM itu bukan negatif, melainkan berbudaya,” tutupnya.
















