mainbola.co – PSIM Jogja akhirnya mengakhiri penantian panjang selama 18 tahun dengan kembali promosi ke kasta tertinggi, BRI Super League musim 2025/2026. Di tengah euforia tersebut, manajemen Laskar Mataram mulai menatap arah jangka panjang klub, salah satunya melalui penguatan program pembinaan pemain muda (youth development).
Direktur Utama PSIM, Yuliana Tasno, menegaskan bahwa performa tim senior tetap menjadi prioritas utama. Namun, ia menilai keberlanjutan klub tidak bisa hanya bergantung pada hasil jangka pendek.
“Kalau performa itu pasti tetap nomor satu. Karena tujuannya PSIM ini memang membanggakan DIY dan membuat masyarakatnya happy,” katanya, Senin (16/3/2026).
Meski demikian, Liana—sapaan akrabnya—mengingatkan bahwa performa harus diimbangi dengan pengelolaan biaya yang sehat. Ia menilai ketergantungan pada pembelian pemain bukan solusi jangka panjang.
“Performa ini harus diseimbangkan dengan cost. Karena kalau terus-menerus ditopang dengan cara beli pemain saja, lama-lama juga tidak bisa bertahan,” ujarnya.
Youth Development Jadi Kunci Masa Depan
Menurut Liana, pembangunan sistem pembinaan pemain muda menjadi langkah strategis yang tidak bisa ditunda. Program youth development diharapkan mampu menjadi tulang punggung suplai pemain untuk tim utama di masa depan.
“Mau tidak mau harus tercipta youth development. Karena dari situ nanti bisa suplai pemain ke first team. Jadi kita tidak jual beli pemain terus,” jelasnya.
Saat ini, PSIM juga telah memiliki tim muda dalam Elite Pro Academy (EPA) yang terbagi dalam tiga kelompok usia, yakni U-16, U-18, dan U-20. Keberadaan EPA menjadi fondasi awal dalam mencetak pemain potensial.
Namun, ia tidak menampik bahwa implementasi program tersebut masih menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait fasilitas dan infrastruktur latihan.
“Ngomong itu mungkin terkesan gampang, tapi implementasinya memang tidak mudah. Saya tahu ini butuh waktu panjang, bahkan sekarang nyari lapangan saja kita masih harus sewa,” ungkapnya.
Bangun Generasi Muda Lewat Sepak Bola
Lebih dari sekadar prestasi di lapangan, PSIM juga diharapkan mampu memberikan dampak sosial bagi masyarakat, khususnya generasi muda di DIY.
Liana ingin sepak bola menjadi ruang pembinaan karakter sekaligus aktivitas positif bagi anak-anak muda, sehingga dapat menjauhkan mereka dari pergaulan negatif.
“Harapannya anak-anak muda di DIY ini punya kegiatan yang baik. Mereka harus atur pola makan, pola hidup, karena kan harus menjaga performanya sebagai atlet,” tuturnya.
Optimistis Tatap Masa Depan
Keberhasilan promosi ke kasta tertinggi setelah hampir dua dekade menjadi momentum penting bagi PSIM. Liana menegaskan capaian tersebut harus disyukuri sekaligus dijaga dengan langkah yang terukur.
Ia optimistis PSIM mampu berkembang dengan menjaga stabilitas tim utama sembari memperkuat fondasi pembinaan pemain muda sebagai investasi jangka panjang.
“Ini kan sudah 18 tahun kita menunggu. Pelan-pelan saja, tidak ada yang langsung jadi. Kita harus syukuri dulu apa yang sudah dicapai,” paparnya.
















