Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
BeritaRagamSuper League

Dinamika Jelang PSIM vs Persebaya: Penonton Gate 10 Tribun Utara Pilih Absen, Soroti Kinerja Panpel SSA

568
×

Dinamika Jelang PSIM vs Persebaya: Penonton Gate 10 Tribun Utara Pilih Absen, Soroti Kinerja Panpel SSA

Sebarkan artikel ini
Foto suporter PSIM Jogja yang berada di Gate 9-10 Stadion Sultan Agung Bantul.  (Dokumen Adit/Penonton Gate 10)
Foto suporter PSIM Jogja yang berada di Gate 9-10 Stadion Sultan Agung Bantul.  (Dokumen Adit/Penonton Gate 10)

JOGJA – Laga big match pekan ke-18 BRI Super League 2025/2026 antara PSIM Jogja vs Persebaya Surabaya di Stadion Sultan Agung (SSA) Bantul, Minggu (25/1/2026), tidak hanya menyita perhatian dari sisi persaingan di lapangan, tetapi juga memunculkan dinamika di tribun penonton.

Sejumlah penonton yang biasa menempati Gate 10 Tribun Utara memutuskan untuk tidak hadir pada laga tersebut. Keputusan ini diambil sebagai bentuk kekecewaan terhadap kebijakan Panitia Pelaksana (Panpel) PSIM Jogja, khususnya terkait pengelolaan dan pembagian kuota tiket.

Keluhan tersebut ramai disuarakan melalui media sosial dengan tagar #HALOPANPELSSA, menyoroti pemangkasan signifikan kuota tiket di sektor Gate 10.

Kuota Tiket SSA Menyusut, Gate 10 Paling Terdampak

Berdasarkan informasi yang diterima penonton, total kuota tiket Stadion Sultan Agung yang semula mencapai 9.000 lembar, kini berkurang menjadi 8.000 tiket untuk laga kontra Persebaya.

Dari total kuota tersebut, Tribun Utara, khususnya Gate 10, disebut mengalami pemangkasan paling besar. Jika pada laga-laga sebelumnya tribun utara mendapat alokasi sekitar 2.500 tiket, kali ini kuotanya turun menjadi sekitar 1.750 tiket.

Padahal, dalam beberapa pertandingan terakhir, tribun utara kerap menjadi sektor dengan animo tertinggi dan hampir selalu terjual habis.

Sebagai catatan, Gate 9 dan Gate 10 dipisahkan oleh sekat pembatas. Gate 9 masuk kategori Tribun Timur dan dipastikan tidak terdampak kebijakan ini, sementara Gate 10 masuk kategori Tribun Utara.

Gate 10 Bukan Laskar Resmi, Tumbuh Secara Organik

Salah satu penonton Gate 10, Adit, menjelaskan bahwa Gate 10 bukanlah organisasi atau laskar resmi PSIM Jogja, melainkan gerakan kolektif yang tumbuh secara organik sejak sebelum pandemi COVID-19.

“Ini kolektif dan spontan. Kami tidak membawa bendera organisasi apa pun. Awalnya cuma kumpul teman-teman lama yang ingin menikmati pertandingan dan melepas penat,” ujar Adit saat ditemui Radar Jogja, Sabtu (24/1/2026).

Menurutnya, sejak PSIM kembali bermarkas di SSA pada musim BRI Super League 2025/2026, Gate 10 Tribun Utara berkembang menjadi titik temu baru bagi penonton lintas generasi.

Inisiatif membawa sound system dari hasil iuran kolektif turut membuat atmosfer di Gate 10 semakin hidup dan menarik minat penonton lain.

“Tujuan kami sederhana. Menikmati proses PSIM di Liga 1, menikmati atmosfer dan kebersamaan. Menang kalah tetap mendukung,” katanya.

Mekanisme Tiket Dinilai Tidak Proporsional

Persoalan mulai muncul menjelang laga kategori tier 1 seperti menghadapi Persebaya Surabaya. Adit menilai, mekanisme pembagian tiket tribun utara yang sebelumnya relatif jelas menjadi bermasalah saat permintaan meningkat drastis.

“Anggota basis suporter saja sudah pasti habis. Kami yang biasanya ikut membeli lewat jalur itu jadi tidak kebagian. Kalau dipaksakan, itu rawan gesekan antarpenonton,” ujarnya.

Atas pertimbangan tersebut, penonton Gate 10 Tribun Utara memilih langkah kolektif untuk absen menonton laga PSIM vs Persebaya.

“Daripada satu-dua komunitas masuk lalu yang lain tidak, akhirnya tidak kompak. Kami memilih semua merasakan hal yang sama,” tegas Adit.

Kritik untuk Panpel dan Kontras dengan Kampanye “SSA Lebih Berisik”

Adit juga mempertanyakan kebijakan Panpel yang memangkas kuota tribun utara secara signifikan. Menurutnya, jika pengurangan kuota memang harus dilakukan karena alasan perizinan atau keamanan, semestinya dilakukan secara proporsional di semua sektor.

“Kalau memang harus dikurangi, ya rata. Jangan justru sektor dengan permintaan tertinggi yang dipotong paling banyak. Secara logika pasar, itu tidak masuk,” ujarnya.

Ia menilai kondisi ini bertolak belakang dengan kampanye manajemen PSIM bertajuk “SSA Lebih Berisik”, yang selama ini justru tumbuh secara organik di Gate 10 Tribun Utara.

“Kalau memang diapresiasi, seharusnya tahu kami ada di mana. Tapi justru titik itu yang dikurangi kuotanya,” tambahnya.

Harapan Evaluasi Kinerja Panpel

Terkait pengurangan total kuota dari 9.000 menjadi 8.000 tiket, Adit berharap ada evaluasi menyeluruh terhadap kinerja Panpel ke depan, terutama pada laga-laga dengan animo tinggi.

“Panpel bukan sekadar cari aman, tapi menyelenggarakan pertandingan dengan sukses. Kalau laga besar saja tidak bisa memperjuangkan tambahan kuota, tentu jadi tanda tanya,” pungkasnya.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *