Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Super League

Adaptasi Puasa Jadi Tantangan bagi Pemain PSIM Jogja Raka Cahyana saat Latihan dan Bertanding

9
×

Adaptasi Puasa Jadi Tantangan bagi Pemain PSIM Jogja Raka Cahyana saat Latihan dan Bertanding

Sebarkan artikel ini
Aksi bek kanan PSIM Jogja Raka Cahyana saat bermain untuk tim Laskar Mataram. (Dokumen PSIM Jogja)

mainbola.co – Pemain muda PSIM Yogyakarta, Raka Cahyana, mengakui tidak mudah menjalani latihan dan pertandingan saat bulan Ramadan. Pemain berstatus U-23 itu harus melakukan penyesuaian fisik sekaligus mengatur pola makan agar tetap bugar ketika tampil di lapangan.

Selain menjaga kondisi tubuh, Raka juga harus pintar mengatur asupan makanan saat sahur dan berbuka. Hal itu menjadi penting agar stamina tetap terjaga ketika menjalani pertandingan pada malam hari.

Pemain kelahiran 24 Februari 2004 tersebut mengaku pengalaman bermain sejak menit awal sambil berpuasa menjadi tantangan baru baginya.

“Jujur kalau buat saya ya susah, adaptasinya susah, apalagi di hari awal-awal itu,” kata Raka, Senin (16/3).

Raka Cahyana Jadi Andalan PSIM di BRI Super League

Dalam kompetisi BRI Super League musim 2025/2026, Raka cukup sering mendapatkan kesempatan bermain bersama PSIM.

Dari total 25 pertandingan yang sudah dijalani tim berjuluk Laskar Mataram, Raka dimainkan oleh pelatih Jean-Paul van Gastel sebanyak 21 kali. Ia juga mencatatkan kontribusi berupa 1 gol dan 2 assist sepanjang musim ini.

Menurutnya, sesi latihan saat menjalani puasa masih bisa ia jalani dengan relatif aman. Namun tantangan terbesar justru muncul ketika pertandingan berlangsung.

Selama bulan Ramadan, pertandingan liga umumnya digelar pada malam hari, yakni sekitar pukul 20.30.

“Kalau latihan cenderung aman. Nah pas tandingnya itu. Karena saya baru pertama kali juga tanding main dari pertama terus pas puasa,” ujarnya.

Mengatur Pola Makan Jadi Tantangan Terbesar

Raka mengungkapkan salah satu kesulitan terbesar saat bertanding di bulan Ramadan adalah menjaga pola makan agar tetap ideal sebelum laga dimulai.

“Jadi ngatur makanannya sih yang agak susah, karena kadang kita tergoda untuk makan banyak, tapi harus dijaga,” lanjutnya.

Menurutnya, pengaturan asupan makanan sangat penting agar tubuh tidak terlalu berat saat pertandingan dimulai.

Lebih Nyaman Bermain pada Malam Hari

Meski menghadapi tantangan adaptasi, Raka mengaku sebenarnya lebih nyaman bermain pada malam hari dibandingkan sore hari. Kondisi tubuhnya terasa lebih siap jika pertandingan digelar setelah berbuka puasa.

“Kalau saya lebih nyaman malam sih sebenarnya,” kata pemain asal Banyumas itu.

Namun demikian, ia menilai waktu kick-off yang terlalu malam juga kurang ideal bagi pemain. Ia mencontohkan beberapa laga yang baru dimulai sekitar pukul 21.00.

Menurutnya, waktu yang lebih ideal untuk pertandingan adalah sekitar pukul 19.00 malam.

“Kemarin beberapa laga lumayan kemalaman, jam 9 kurang lebih baru mulai. Apalagi kemarin di SSA sempat mati lampunya,” ujar Raka.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *