Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Super League

Tujuh Tahun Bersama PSIM, Dirut Yuliana Tasno: “PSIM Itu Seperti Kekasih Saya”

27
×

Tujuh Tahun Bersama PSIM, Dirut Yuliana Tasno: “PSIM Itu Seperti Kekasih Saya”

Sebarkan artikel ini
Direktur Utama PSIM Jogja Yuliana Tasno. (Dok. PSIM Jogja)

mainbola.co– Direktur Utama PSIM Yogyakarta, Yuliana Tasno, mengungkapkan hubungan emosional yang kuat dengan klub yang dipimpinnya. Bagi perempuan yang akrab disapa Ci Liana itu, PSIM bukan sekadar tempat bekerja, melainkan bagian penting dalam perjalanan hidupnya.

Selama kurang lebih tujuh tahun terakhir mendedikasikan diri untuk klub berjuluk Laskar Mataram, Liana mengaku memiliki kedekatan personal yang sangat mendalam dengan PSIM. Ia bahkan mengibaratkan hubungan tersebut layaknya hubungan romantis.

“Rasanya PSIM itu kayak kekasih pribadi saya. Saya take care ke PSIM dengan sepenuh hati,” ujar Liana , Minggu (15/3).

Menurutnya, selama memimpin klub kebanggaan masyarakat Jogja tersebut, ia selalu berusaha memberikan seluruh kemampuan terbaiknya demi perkembangan PSIM.

“Saya mengeluarkan semua potensi saya di PSIM untuk berkarya. Tapi sebaliknya, PSIM juga memberi banyak sekali memori dan kesempatan yang indah untuk saya,” katanya.

PSIM Beri Banyak Kesempatan Hidup

Perjalanan panjang bersama PSIM, menurut Liana, membuka banyak peluang penting dalam hidupnya. Tidak hanya dalam karier profesional, tetapi juga memperluas jejaring dan pengalaman di dunia olahraga.

“PSIM memberikan banyak sekali kesempatan yang luar biasa dalam hidup saya. Jadi itu seperti hubungan romantis antara saya dan PSIM,” lanjutnya.

Melalui klub tersebut, Liana mengaku berkesempatan bertemu banyak tokoh penting serta menjalin relasi dengan berbagai pihak yang sebelumnya sulit ia bayangkan.

“Lewat PSIM saya bisa bertemu banyak orang luar biasa, orang-orang top yang mungkin sebelumnya sulit untuk saya temui,” ujarnya.

Pengalamannya di dunia sepak bola juga membuka peluang lain, termasuk kesempatan pendidikan dan keterlibatan dalam organisasi olahraga internasional.

“Kesempatan-kesempatan besar dalam hidup saya, termasuk beasiswa sampai bisa masuk ke organisasi olahraga internasional, itu juga karena PSIM,” kata Liana.

Tekanan Berat Saat PSIM di Liga 2

Meski demikian, perjalanan Liana bersama PSIM tidak selalu berjalan mulus. Ia mengakui sempat mengalami tekanan besar ketika klub masih berkompetisi di kasta kedua sepak bola nasional.

Atmosfer sepak bola di Jogja yang penuh gairah, terutama dari suporter, sempat membuatnya mengalami stres.

“Waktu di Liga 2 itu, Jogja buat saya kota yang penuh tekanan. Saya sempat overstress karena tekanan suporter yang luar biasa,” ungkapnya.

Namun situasi tersebut berubah setelah PSIM berhasil promosi ke kasta tertinggi kompetisi nasional musim ini. Liana kini justru melihat Jogja sebagai kota yang sangat menyenangkan bagi perkembangan sepak bola.

“Sekarang saya merasa Jogja itu kota yang menyenangkan. Buat sepak bola, Jogja memang kota bola menurut saya,” ujarnya.

Bangga Mengabdi untuk DIY

Di sisi lain, Liana juga mengaku bangga bisa menjadi bagian dari klub bersejarah yang berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Menurutnya, DIY memiliki nilai historis penting bagi Indonesia sekaligus potensi besar dalam perkembangan sepak bola nasional.

“Saya sangat bangga bekerja untuk DIY. Kita punya klub sepak bola yang historis di daerah yang sangat penting bagi Indonesia,” sebutnya.

Hubungan panjang yang telah terjalin antara dirinya dan PSIM membuat Liana semakin yakin untuk terus memberikan kontribusi terbaik bagi klub kebanggaan masyarakat Jogjakarta tersebut.

“PSIM itu seperti kekasih saya. Saya sudah percaya bahwa PSIM akan selalu membawa hal baik dan positif bagi saya dan DIY,” tutupnya.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *