JOGJA – PSIM Jogja meraih kemenangan penting saat menjamu Semen Padang FC pada laga pekan ke-16 BRI Super League 2025/2026 di Stadion Sultan Agung (SSA), Bantul, Minggu (4/1).
Laskar Mataram menutup pertandingan dengan kemenangan tipis 1–0 meski tampil dengan komposisi pemain tidak lengkap karena badai cedera dan akumulasi kartu.
Tambahan tiga poin ini menjadi jawaban atas krisis pemain yang tengah dihadapi PSIM, sekaligus modal berharga untuk menghadapi laga-laga berikutnya di kompetisi kasta tertinggi tersebut. Hingga pertandingan berakhir, PSIM mampu mempertahankan keunggulan 1-0 atas tim tamu melalui gol penalti yang dicetak oleh Ze Valente.
Dalam konferensi pers setelah pertandingan, Pelatih PSIM Jogja Jean Paul Van Gastel tak menampik kemenangan itu diraih melalui perjuangan berat. Menurutnya, Semen Padang tampil ngotot karena tengah berjuang menjauh dari papan bawah.
“Ini adalah pertandingan yang sulit melawan tim yang berjuang keras untuk tetap berada di liga tertinggi. Sulit bagi kami mengalahkan mereka, tetapi pada akhirnya saya pikir kami pantas menang,” ujar Van Gastel.
Pelatih asal Belanda itu juga menilai timnya masih membutuhkan waktu untuk berkembang. Ia menyebut PSIM tengah berada dalam proses pembentukan tim, sehingga masih ada beberapa kekurangan, terutama saat membongkar pertahanan rapat tim lawan.
“Kita butuh kesabaran dan visi dalam pertandingan seperti ini. Butuh sesuatu yang lain untuk menembus pertahanan seperti ini, dan saat ini kami belum memiliki kemampuan khusus untuk melakukannya dengan mudah,” ucapnya.
Ketika ditanya mengenai keputusan wasit yang sempat diprotes kubu tim tamu, Van Gastel memilih enggan berkomentar secara mendetail. “Saya berjanji pada diri sendiri untuk tidak membicarakan wasit. Jadi saya tidak akan terlibat dalam perdebatan ini,” tegasnya.
Salah seorang pemain PSIM Rio Hardiawan juga mengakui laga kontra Semen Padang tidak mudah bagi timnya. “Pertandingan hari ini cukup berat bagi kami. Bukan cuma melawan Semen Padang saja, tapi juga melawan diri kami sendiri untuk tampil lebih baik dan mencari momen mencetak gol. Alhamdulillah kami bisa mendapat gol itu dan meraih tiga poin,” ujarnya.
Dari kubu tim tamu, Pelatih Semen Padang Dejan Antonic terang-terangan menyampaikan kekecewaannya. Bukan hanya karena hasil, tetapi juga terkait sejumlah keputusan wasit yang dianggap merugikan timnya.
“Keputusan wasit sangat aneh dan penuh perdebatan. Saya pikir sepak bola Indonesia tidak akan maju jika situasinya terus seperti ini,” kata Dejan.Ia menyoroti dua keputusan penalti bagi PSIM dalam laga tersebut, di mana satu dibatalkan dan satu lainnya tetap diberikan. “Penalti yang disahkan juga cukup aneh, karena sepertinya hanya wasit yang menganggap penalti itu,” ungkapnya.
Meski begitu, Dejan tetap menegaskan komitmennya untuk membawa Semen Padang bangkit di laga-laga berikutnya. Di samping itu, dengan besar hati ia juga mengapresiasi kemenangan PSIM.
“Kami berjuang keras di semua pertandingan. Saya tidak minta banyak, hanya fair play saja. Selamat untuk PSIM Jogja, dan kita akan bertemu lagi di putaran kedua,” uturnya.
Di sisi lain, perwakilan pemain Semen Padang Rosad Setiawan juga mengungkapkan rasa kecewanya atas kekalahan itu, meski tetap mengapresiasi kerja keras tim.
“Kami kecewa dengan hasil ini, walaupun semua pemain fokus dan bekerja keras sepanjang laga. Kami juga membuat berbagai peluang, tapi inilah sepak bola, hasilnya tidak selalu berpihak ke kita,” ucapnya. (Fahmi Fahriza)
















