JOGJA – Persaingan ketat di kasta tertinggi BRI Super League 2025/2026 memaksa setiap elemen dalam tim PSIM Jogja untuk tetap waspada. Menariknya, kapten Laskar Mataram, Reva Adi Utama, justru melihat tekanan dan kritik dari suporter bukan sebagai beban, melainkan instrumen penting untuk menjaga fokus tim.
Di tengah dinamika liga yang penuh kejutan, Reva menilai bahwa suara lantang dari tribun maupun komentar di media sosial adalah bentuk kepedulian nyata pendukung terhadap prestasi klub.
Mengapa Tekanan Penting Bagi Pemain PSIM?
Menurut bek kiri berpengalaman asal Makassar ini, atmosfer kompetisi yang kompetitif tidak memberikan ruang bagi sikap santai. Ia menegaskan bahwa rasa puas diri atau terlalu rileks adalah musuh utama atlet profesional.
“Menurut saya tekanan itu sangat penting buat tim, kalau tidak ada pressure seperti itu kita semua mungkin lengah,” ujar Reva Adi Utama (22/1/2026).
Berikut adalah beberapa poin utama mengapa Reva Adi menganggap tekanan suporter itu positif:
-
Menghindari Complacency (Sikap Lengah): Tanpa tekanan, pemain cenderung merasa sudah cukup dengan performa saat ini.
-
Alarm Kewaspadaan: Mengingat tim pesaing terus berbenah, PSIM harus tetap berada di level tertinggi.
-
Wujud Cinta Suporter: Kritik adalah indikator bahwa suporter ingin tim kebanggaan mereka mencapai hasil terbaik.
Strategi Menghadapi Kritik di Media Sosial
Di era digital, pemain sepak bola sering kali terpapar langsung dengan komentar warganet. Namun, Reva Adi memiliki cara tersendiri untuk menjaga mentalitasnya agar tetap stabil:
-
Prioritas Latihan: Fokus utama tetap pada ritme latihan dan persiapan taktis menjelang laga.
-
Filter Informasi: Tidak menjadikan dinamika media sosial sebagai fokus utama agar tidak merusak ritme permainan.
-
Menjaga Mental: Memahami bahwa kritik adalah bagian dari kontrak profesional sebagai pemain sepak bola.
Batasan Kritik Profesional vs Personal
Meskipun terbuka terhadap masukan, mantan pemain Persebaya ini memberikan catatan penting mengenai etika dalam memberikan kritik.
“Kritik itu normal selama tidak menghina keluarga. Pemain harus menyikapinya dengan positif. Jangan diambil hati karena itu bisa merusak mental pemain itu sendiri,” tegasnya.
Persiapan PSIM Jogja Menuju Akhir Musim
Hingga Januari 2026, PSIM Jogja terus berupaya menjaga konsistensi di papan atas BRI Super League. Reva mengajak seluruh rekan setimnya untuk mengubah setiap tekanan menjadi energi positif di lapangan hijau hingga kompetisi benar-benar usai.(fahmi fahriza/ radar jogja)
















