Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita

Indonesia Ambil Sikap Berbeda! Erick Thohir Bela FIFA saat UEFA, AFC, dan CONCACAF Melawan

1
×

Indonesia Ambil Sikap Berbeda! Erick Thohir Bela FIFA saat UEFA, AFC, dan CONCACAF Melawan

Sebarkan artikel ini
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir bersama presiden FIFA, Gianni Infantino.

Di saat sejumlah konfederasi besar dunia ramai-ramai mengkritik rencana FIFA menjual sebagian hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta, Ketua Umum PSSI Erick Thohir justru mengambil sikap berbeda. Ia memilih berdiri di belakang Presiden FIFA, Gianni Infantino.

Dukungan tersebut diberikan menyusul rencana FIFA membentuk FIFA Forward Enterprise (FFE), sebuah anak perusahaan yang akan mengelola hak siar, sponsor, tiket, hingga lisensi berbagai kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia. Lewat skema tersebut, FIFA berencana membuka peluang masuknya investor swasta melalui penjualan sebagian saham bisnis komersial turnamen paling bergengsi di dunia itu.

Usulan tersebut memicu gelombang penolakan. UEFA dan CONCACAF menjadi dua konfederasi pertama yang menyatakan keberatan, bahkan sempat melontarkan ancaman boikot terhadap kebijakan tersebut. Belakangan, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) juga menyampaikan dukungannya terhadap sikap UEFA dan CONCACAF.

Namun Indonesia memilih jalan berbeda.

Erick menilai hubungan antara Indonesia dan FIFA tidak bisa hanya dilihat dari polemik bisnis semata. Menurutnya, FIFA telah memainkan peran penting dalam membantu kebangkitan sepak bola nasional, terutama setelah tragedi Kanjuruhan.

“Bahwa sepak bola kita hari ini bisa meraih banyak prestasi seperti sekarang karena masyarakat, pemerintah, dan FIFA hadir bersama-sama. Kita harus berterima kasih, terutama kepada FIFA,” kata Erick kepada wartawan di Kantor Kemenpora, Jumat (31/7).

Menurut Erick, tragedi Kanjuruhan menjadi titik balik hubungan Indonesia dengan FIFA. Saat itu, Indonesia berada dalam situasi sulit dan berpotensi menerima sanksi berat apabila komunikasi dengan FIFA tidak berjalan baik.

“Kalau kita bicara mengenai peristiwa Kanjuruhan, apabila waktu itu masyarakat, pemerintah, dan FIFA tidak bersepakat, tidak akan ada tim nasional seperti hari ini karena kita bisa disanksi selama delapan tahun,” ujarnya.

Bagi Erick, kehadiran FIFA di Indonesia bukan hanya sebatas simbol. Pembukaan kantor FIFA di Jakarta menjadi bukti bahwa Indonesia kini dipandang sebagai salah satu negara strategis dalam pengembangan sepak bola dunia.

Ia juga menegaskan Indonesia tidak ingin hanya menjadi pasar bagi industri sepak bola global.

“Indonesia merupakan negara sepak bola. Jangan sampai Indonesia hanya dijadikan pasar. Karena itulah kami meminta FIFA hadir di Indonesia. Terbukti sekarang sudah ada kantor FIFA di Indonesia,” jelasnya.

Selain itu, Erick mengungkapkan FIFA secara rutin menggelontorkan dana pengembangan untuk berbagai program sepak bola di Indonesia. Menurutnya, investasi tersebut menunjukkan keseriusan badan sepak bola dunia dalam membangun ekosistem sepak bola nasional.

“FIFA juga berinvestasi melalui sekitar 13 hingga 15 kegiatan setiap tahun dengan dana sekitar 1 sampai 2 juta dolar AS yang langsung mereka salurkan. FIFA serius membangun sepak bola Indonesia dan kawasan Asia Tenggara serta Oseania,” paparnya.

Sikap Erick memang berbeda dengan mayoritas konfederasi besar dunia. Namun, dari sudut pandang PSSI, dukungan terhadap FIFA bukan semata soal menyetujui rencana komersialisasi Piala Dunia, melainkan bentuk apresiasi atas kemitraan yang dinilai telah membantu sepak bola Indonesia bangkit dalam beberapa tahun terakhir.

Di tengah perdebatan global mengenai masa depan hak komersial Piala Dunia, PSSI memilih melihat persoalan ini dari perspektif yang lebih dekat: bagaimana hubungan baik dengan FIFA dapat terus memberikan manfaat bagi perkembangan sepak bola Indonesia.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *