mainbola.co – Era kejayaan modern Liverpool resmi berakhir. Dua pilar utama The Reds, Mohamed Salah dan Andy Robertson, telah memainkan pertandingan terakhir mereka di Anfield saat Liverpool bermain imbang 1-1 melawan Brentford.
Momen pergantian Salah pada menit ke-73 menjadi puncak emosional, di mana seisi stadion berdiri memberikan standing ovation dan menyanyikan yel-yel penghormatan untuk sang raja Mesir.
Fakta Menarik Perjalanan Salah & Robertson di Liverpool:
-
Bergabung Bersama: Keduanya didatangkan pada jendela transfer musim panas 2017.
-
Durasi Pengabdian: Mengabdi selama 9 tahun di Merseyside.
-
Koleksi Trofi: Sukses memenangkan 1x gelar Liga Champions dan 2x trofi Premier League.
Usai laga, Mohamed Salah tidak bisa menyembunyikan rasa sedihnya. Pemain yang dikenal tangguh ini mengaku luluh oleh atmosfer perpisahan yang dibuat oleh para suporter.
“Saya rasa saya menangis lebih banyak daripada seumur hidup saya,” kata Salah kepada Sky Sports.
“Saya bukan tipe orang yang emosional. Kami menjalani masa muda kami di sini, berbagi segalanya dari awal hingga akhir. Kami mengembalikan klub ini ke tempatnya semula. Robertson dicintai karena ia memberikan segalanya di lapangan. Mereka mencintainya karena itu,” imbuhnya.
Hubungan Salah dengan manajemen sempat memanas pada Desember 2025 setelah ia merasa “dinkambing-hitamkan”, disusul cuitan kontroversialnya pada bulan Mei tentang taktik heavy metal. Namun, semua riak tersebut terhapus oleh rasa cinta fans di laga terakhirnya.
“Itulah hidup. Saya melihat ke belakang dan bertanya-tanya apakah saya menginginkan lebih dari yang saya capai. Tidak juga. Kami memenangkan semuanya. Kami melihat cinta dari para penggemar dan ini adalah hal terpenting bagi saya,” kata Salah.
“Saya akan jauh dari sini. Saya akan selalu emosional. Saya berharap tim tetap berada di posisi ini, berjuang untuk segalanya,” jelasnya.
Robertson Soroti Rivalitas Kontra Pep Guardiola
Sementara itu, bek kiri Andy Robertson juga menyampaikan salam perpisahan yang tidak kalah mengharukan. Robertson mengakui bahwa bersaing di kasta tertinggi sepak bola Inggris, terutama melawan Manchester City besutan Pep Guardiola, telah menguras energinya.
“I’m emotionally tired,” kata Robertson. “Ini adalah minggu yang sibuk mencoba untuk mengendalikan emosi dan mengucapkan selamat tinggal kepada mereka yang perlu kita ucapkan selamat tinggal. Pep Guardiola mendorong kami ke batas baru. Kami seharusnya memenangkan lebih banyak Premier League jika bukan karena orang itu,” tegasnya.
Meskipun belum menentukan klub barunya, Robertson menegaskan bahwa fokus terdekatnya saat ini adalah membela negaranya di ajang Piala Dunia sebelum nantinya kembali sebagai penonton setia Liverpool.
“Seamus Coleman meninggalkan Everton dan dia telah menjadi pemain yang fantastis bagi klub sepak bola itu. Di tahun-tahun mendatang, kami tahu bahwa kami berdua akan disambut kembali ke klub sepak bola ini. Ini adalah bab besar dalam buku kami tetapi ini bukan akhir. Pertama dan terpenting, kita harus berhenti dan focus pada Piala Dunia. Saya tahu ini adalah keluarga kami dan kami akan disambut kembali,” pungkasnya.














