Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Super League

Razzi Taruna Bongkar Standar Eropa Jean Paul van Gastel di PSIM Jogja: Tegas, Adil, dan Profesional

34
×

Razzi Taruna Bongkar Standar Eropa Jean Paul van Gastel di PSIM Jogja: Tegas, Adil, dan Profesional

Sebarkan artikel ini
Manajer tim PSIM Jogja Razzi Taruna (Fahmi Fahriza/Radar Jogja)

mainbola.co – Kehadiran Jean Paul van Gastel di kursi kepelatihan PSIM Jogja memberikan warna baru yang sangat profesional bagi Laskar Mataram di musim BRI Super League 2025/2026. Manajer Tim PSIM Jogja, Razzi Taruna, mengungkapkan bahwa pelatih asal Belanda tersebut memiliki karakter yang kuat: tegas, adil, namun tetap memiliki sisi humanis.

Razzi menilai gaya komunikasi Van Gastel sangat straightforward atau blak-blakan. Hal ini justru mempermudah koordinasi antara manajemen, pelatih, dan pemain.

Komunikasi Lugas dan Profesional

Menurut Razzi, pelatih berusia 53 tahun itu tidak pernah berbelit-belit dalam menyampaikan evaluasi. Jika ada sesuatu yang kurang berkenan, Van Gastel akan langsung menyampaikannya saat itu juga.

“Jean Paul ini orangnya straightforward banget. Marah ya marah, apresiasi ya apresiasi. Tapi selalu konteksnya membangun dan profesional,” ujar Razzi, Minggu (1/2/2026).

Ketegasan ini, lanjut Razzi, justru membuat suasana kerja menjadi lebih sehat. Tidak ada konflik yang dipendam yang berpotensi merusak keharmonisan tim.

“Kalau ada yang dia kurang suka dari saya, dia langsung bilang, ‘kamu bisa perbaiki nggak?’. Kalau bisa, ya selesai. Nggak ada bete-betean besoknya,” imbuhnya.

Sosok Bapak bagi Pemain

Meski dikenal disiplin, Van Gastel ternyata mampu menempatkan diri dengan baik di hadapan para pemain. Di luar lapangan hijau atau saat sesi santai, ia bisa menjadi sosok yang humoris.

Razzi melihat mantan asisten pelatih di klub-klub besar Eropa ini sebagai figur pemimpin yang komplet. Ia memiliki komando yang kuat (leader command), namun tetap peduli pada detail-detail kecil dalam tim.

“Dia bisa jadi peran bapak buat pemain. Serius iya, bercanda juga bisa. Ada joke-joke internal yang bikin suasana tim tetap hidup,” jelas Razzi.

Ogah Turunkan Standar Eropa

Salah satu alasan utama manajemen mendatangkan Van Gastel adalah untuk meningkatkan level PSIM Jogja. Razzi menegaskan, pihaknya tidak ingin sang pelatih menurunkan standar kepelatihannya hanya karena beradaptasi dengan kultur sepak bola Indonesia. Sebaliknya, PSIM-lah yang ingin belajar dari standar Eropa tersebut.

“Kita nggak mau Jean Paul nurunin standarnya. Kita datangkan dia dari Belanda ya untuk bawa standar itu ke sini,” tegasnya.

Meski tetap ada kompromi kecil terkait konteks lokal, esensi profesionalisme Eropa tetap menjadi acuan utama. Tujuannya jelas: agar seluruh elemen di Laskar Mataram bisa naik kelas (level up).

“Tetap ada kompromi sedikit, ‘oh ini Indonesia’. Tapi level dia tetap harus dibawa ke sini agar kita semua bisa level up,” pungkas Razzi. (fahmi fahriza/radar jogja)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *