mainbola.co – Menjadi palang pintu pertahanan di kompetisi seketat BRI Super League 2025/2026 bukanlah perkara mudah. Kapten PSIM Jogja, Reva Adi Utama, membeberkan tantangan terberat yang ia hadapi saat menjaga lini belakang Laskar Mataram musim ini.
Eks pemain Persebaya ini mengungkapkan bahwa ada satu tipikal penyerang yang selalu membuatnya harus memutar otak dan menguras keringat lebih dalam. Bukan sekadar soal fisik, namun kecerdasan pemain lawan dalam mencari celah.
Ancaman Nyata: Kecepatan dan Pergerakan Tanpa Bola
Menurut Reva, striker yang hobi mengeksploitasi ruang kosong di belakang bek adalah ancaman paling nyata. Pemain dengan mobilitas tinggi ini memaksa lini pertahanan tetap waspada selama 90 menit penuh tanpa jeda.
“Kalau saya pribadi, striker-striker yang cepat, yang mungkin selalu lari di belakang lawan, itu yang paling sulit. Karena kita harus butuh tenaga ekstra untuk menjaga pemain seperti itu,” ujar Reva saat ditemui pada Selasa (3/2).
Ia menilai, menghadapi pemain bertipe “pelari” ini tidak hanya menuntut ketahanan fisik, tetapi juga konsentrasi tingkat tinggi. Terlambat sepersekian detik dalam membaca gerakan bisa berakibat fatal bagi gawang PSIM.
Waspadai Kekuatan Malut United
Selain bicara soal individu, Reva Adi juga menunjuk satu tim yang menurutnya memiliki lini serang paling komplet di musim ini, yakni Malut United. Meskipun pada putaran pertama PSIM sukses membungkam mereka dengan skor 2-0, Reva tetap menaruh hormat tinggi pada kualitas ofensif tim tersebut.
Reva menyebut kombinasi kecepatan dan kekuatan fisik pemain Malut United sangat menonjol. Nama-nama besar di sana dianggap sebagai momok bagi setiap bek di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
“Di Malut United, mereka punya attacking luar biasa. Ada David da Silva, Ciro, terus ada Sayuri Brothers. Mereka punya kecepatan, punya power,” ungkap pemain yang berposisi sebagai bek kiri tersebut.
Kunci Pertahanan: Fokus dan Koordinasi
Menghadapi tim dengan daya gedor agresif, Reva menegaskan bahwa pertahanan bukanlah tugas bek semata. Baginya, koordinasi kolektif dari seluruh lini adalah kunci untuk meredam kecepatan lawan.
“Kita tidak boleh lengah sedikit saja, karena sekali kita terlambat membaca pergerakan, itu bisa sangat berbahaya,” tegasnya.
Pernyataan sang kapten ini menjadi sinyal bagi skuad Laskar Mataram untuk terus memperkokoh koordinasi antarlini demi menjaga konsistensi di papan atas klasemen BRI Super League. (Fahmi Fahriza/Radar Jogja)
















