Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
BeritaSuper League

PSIM Jogja Bangun Akademi dan Youth Development, Siapkan Fondasi Jangka Panjang di Super League

16
×

PSIM Jogja Bangun Akademi dan Youth Development, Siapkan Fondasi Jangka Panjang di Super League

Sebarkan artikel ini
Direktur Utama PSIM Jogja Yuliana Tasno. (Dokumen PSIM Jogja)

PSIM Jogja mulai menyusun fondasi jangka panjang agar tidak hanya menjadi tim yang numpang lewat di BRI Super League. Setelah sukses kembali ke kasta tertinggi dan memasuki musim kedua, Laskar Mataram kini mengalihkan fokus pada pembangunan sistem pembinaan pemain muda sebagai investasi masa depan klub.

Direktur Utama PSIM Jogja, Liana Tasno, menegaskan target klub bukan sekadar bertahan beberapa musim di Super League. Menurutnya, keberlanjutan prestasi harus dibangun di atas fondasi finansial yang sehat dan sistem pembinaan yang kuat.

“Performa ini tetap harus diseimbangkan dengan cost. Karena cost yang dikeluarkan itu lama-lama bisa nggak bertahan juga,” ujar Liana, Jumat (7/8).

Menurutnya, klub tidak bisa terus bergantung pada belanja pemain setiap jendela transfer. Karena itu, PSIM mulai memprioritaskan pengembangan pemain muda agar kebutuhan skuad utama suatu saat dapat dipenuhi dari hasil pembinaan sendiri.

“Mau tidak mau harus tercipta youth development. Karena youth development ini yang akan menyuplai ke first team, sehingga kita nggak beli pemain terus,” katanya.

Langkah tersebut juga menjadi strategi PSIM untuk membangun klub yang lebih mandiri di tengah meningkatnya biaya operasional sepak bola profesional. Dengan memiliki jalur pembinaan yang berkelanjutan, pengeluaran transfer diharapkan dapat ditekan tanpa mengurangi kualitas tim.

Meski demikian, Liana mengakui proses membangun akademi dan sistem pembinaan bukan pekerjaan instan. Salah satu tantangan terbesar yang masih dihadapi adalah belum tersedianya training ground milik sendiri.

Saat ini PSIM masih menggunakan lapangan latihan dengan sistem sewa sembari memetakan sejumlah lokasi yang diproyeksikan menjadi pusat latihan permanen di masa mendatang. Meski prosesnya terus berjalan, manajemen memilih tidak terburu-buru mengumumkan rencana sebelum benar-benar terealisasi.

Lebih dari sekadar kebutuhan tim utama, pembangunan akademi juga diharapkan menjadi wadah bagi talenta-talenta muda Daerah Istimewa Yogyakarta untuk berkembang melalui sepak bola.

Di sisi lain, manajemen juga memilih realistis dalam menentukan target tim musim ini. Alih-alih memasang ambisi tinggi, PSIM lebih fokus menjaga stabilitas agar mampu bertahan secara konsisten di kompetisi kasta tertinggi.

“Saya ingin tim bertahan dan stabil, tidak ada target muluk-muluk,” tegas Liana.

Meski memiliki mimpi membawa PSIM bersaing di level Asia suatu saat nanti, Liana menilai jalan menuju ke sana harus ditempuh secara bertahap. Prioritas utama saat ini adalah memperkuat fondasi klub, membangun akademi, memiliki fasilitas latihan sendiri, dan menciptakan ekosistem yang mampu menghasilkan pemain berkualitas secara berkelanjutan.

Dengan strategi tersebut, PSIM berharap tidak hanya menjadi peserta Super League, tetapi berkembang menjadi klub yang kuat secara prestasi, sehat secara finansial, dan mampu mencetak pemain-pemain terbaik dari bumi Mataram.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *