PSS Sleman mendapatkan ujian berharga dalam persiapan menuju kompetisi resmi. Menghadapi sesama kontestan Liga 1, PSM Makassar, dalam uji coba pramusim ketiga di Maguwoharjo International Stadium (MagIS), Kamis (20/8) sore, Laskar Sembada bermain imbang 1-1.
Pertandingan berlangsung sengit dengan intensitas tinggi. Bagi pelatih PSS Sleman Pieter Huistra, hasil akhir bukan menjadi ukuran utama. Justru kesempatan memberikan menit bermain kepada pemain menjadi bagian penting dari agenda pramusim.
Laga tersebut dimainkan dalam format tiga kali 40 menit. Dengan format itu, sebagian besar pemain PSS mendapatkan kesempatan bermain lebih dari 60 hingga 70 menit.
“Saya pikir hari ini adalah pertandingan yang sangat berguna. Kami bermain tiga kali 40 menit, yang artinya hampir setiap pemain mendapatkan porsi bertanding lebih dari 60 hingga 70 menit. Hal itu sangat penting di fase pramusim seperti ini,” kata Huistra.
Fornazari Mulai Buka Keran Gol
PSS lebih dulu mencatatkan namanya di papan skor melalui striker anyar asal Brasil, Matheus Fornazari.
Penyerang jangkung tersebut berhasil memanfaatkan umpan matang dari Gustavo Tocantins untuk membawa Super Elja mencetak gol.
Bagi Huistra, laga melawan PSM juga memberikan gambaran mengenai level intensitas yang akan dihadapi PSS ketika kompetisi resmi dimulai.
PSM memberikan perlawanan ketat sehingga pertandingan berjalan dalam tempo tinggi. Situasi tersebut justru dinilai positif karena pemain PSS bisa merasakan atmosfer persaingan yang lebih mendekati pertandingan kompetitif.
“PSM memberikan perlawanan yang sengit, jadi pertandingan berjalan dengan intensitas tinggi. Hal-hal seperti inilah yang kita harapkan di Liga 1,” ujar Huistra.
Pramusim Jadi Laboratorium Taktik
Selain menguji kondisi fisik, Huistra kembali memanfaatkan pertandingan untuk melakukan eksperimen taktik.
Beberapa pemain dicoba di posisi yang berbeda dari posisi natural mereka. Menurut Huistra, pramusim merupakan waktu terbaik untuk mencari berbagai alternatif permainan sebelum kompetisi benar-benar dimulai.
“Saya suka melihat pemain tampil di posisi yang berbeda dari aslinya. Saya selalu mencoba menemukan cara-cara baru dan pramusim adalah waktu yang tepat untuk melakukan itu,” jelasnya.
Eksperimen tersebut diharapkan membuat PSS memiliki lebih banyak opsi ketika menghadapi situasi berbeda dalam pertandingan resmi.
Hujan Kartu Justru Jadi Cermin Duel Sengit
Pertandingan PSS kontra PSM juga diwarnai banyak kartu kuning. Namun, Huistra tidak melihat hal tersebut sebagai persoalan besar.
Sebaliknya, banyaknya kartu menjadi indikasi bahwa kedua tim bermain serius dan tidak menganggap laga tersebut sekadar pertandingan persahabatan biasa.
“Ini menunjukkan kedua tim tidak menganggap ini sekadar laga persahabatan biasa, melainkan pertandingan uji coba yang sungguh-sungguh,” tandasnya.
Huistra menilai pertandingan tetap berjalan dalam batas sportivitas meski pemain kedua tim tampil agresif dalam duel-duel perebutan bola.
Hasil 1-1 menjadi bagian dari proses PSS membangun kesiapan. Dari menit bermain, eksperimen posisi, hingga merasakan intensitas lawan selevel, Huistra mendapatkan sejumlah bahan evaluasi sebelum Super Elja benar-benar memasuki kompetisi 2026/2027.
















