Regenerasi PSIM Jogja kembali menghasilkan satu nama baru untuk tim senior. Kiper muda Athaullah Daib mendapat promosi dari Elite Pro Academy (EPA) U-16 dan akan menjadi bagian dari skuad Laskar Mataram pada BRI Super League 2026/2027.
Daib dipastikan didaftarkan sebagai kiper keempat PSIM musim ini. Ia akan melengkapi tiga penjaga gawang yang lebih dulu mengisi skuad senior, yakni Cahya Supriadi, Harlan Suardi, dan Khairul Fikri.
Manajer tim PSIM Jogja Iksan Mahar mengatakan keputusan tersebut merupakan bagian dari proses regenerasi yang sudah mulai dijalankan klub.
“Daib tentu akan didaftarkan sebagai bagian skuad kami di Super League musim ini,” kata Iksan, Senin (10/8).
Promosi Daib bukan keputusan mendadak. Kiper jebolan EPA U-16 tersebut sebelumnya mendapat kesempatan berlatih bersama tim senior selama kurang lebih tiga pekan.
Dalam proses itu, Daib mendapat penilaian langsung dari tim pelatih, terutama pelatih kiper PSIM, Mario Capace.
“Di musim pertama PSIM mengikuti EPA, Daib adalah salah satu nama yang masuk perhatian kami di manajemen sebagai salah satu pemain muda potensial,” ujar Iksan.
Penilaian tersebut kemudian berlanjut ketika Daib mengikuti latihan bersama tim utama. Performa dan perkembangan sang kiper dinilai positif hingga akhirnya manajemen memberinya kontrak profesional pertama.
“Melalui koordinasi dengan tim pelatih, terutama pelatih kiper Mario Capace, Daib mendapat penilaian positif setelah ikut latihan. Itu yang mendasari kami untuk memberi dia kontrak profesional pertamanya,” tutur Iksan.
Regenerasi dari Bawah
Daib sekaligus melanjutkan pola regenerasi PSIM di sektor penjaga gawang.
Musim lalu, slot kiper keempat ditempati Gilang Ardha, jebolan EPA U-20 yang mendapat promosi ke tim senior. Namun, Gilang tidak lagi menjadi bagian dari skuad utama PSIM musim ini.
Kini kesempatan tersebut diberikan kepada Daib yang bahkan datang dari kelompok usia lebih muda.
Langkah ini memperlihatkan bahwa jalur dari EPA menuju tim senior mulai dibuka lebih lebar. Pemain muda tidak hanya dibina untuk bertanding di level akademi, tetapi juga dipersiapkan untuk masuk ke persaingan tim utama.
Kebijakan tersebut sejalan dengan visi Direktur Utama PSIM Jogja Liana Tasno yang ingin EPA menjadi pemasok pemain bagi first team.
“Youth development ini yang akan menyuplai ke first team, sehingga kita nggak jual beli mulu,” kata Liana.
Bagi Daib, promosi ini tentu menjadi lompatan besar. Dari panggung EPA U-16, kini ia masuk ke ruang persaingan sepak bola profesional.
Belum tentu langsung menjadi pilihan utama. Namun, status sebagai kiper keempat memberinya pintu pertama untuk belajar dari level senior.
Dan bagi PSIM, Daib adalah bukti bahwa regenerasi tak berhenti di slogan. Jalur dari akademi menuju tim utama mulai benar-benar dibuka.














