Jean-Paul van Gastel ternyata tidak datang ke PSIM Jogja dengan membawa filosofi sepak bola yang benar-benar baru. Gaya bermain yang diterapkan bersama Laskar Mataram memiliki benang merah dengan pendekatan yang pernah digunakannya saat menangani NAC Breda.
Perbedaannya, Van Gastel kini harus menerjemahkan filosofi tersebut ke dalam konteks sepak bola Indonesia, khususnya kompetisi kasta tertinggi yang memiliki karakter berbeda.
Salah satu kesamaan paling jelas adalah penggunaan skema 4-2-3-1. Data BeSoccer mencatat formasi tersebut sebagai taktik utama Van Gastel baik ketika menangani NAC Breda pada musim 2023/2024 maupun PSIM pada musim 2025/2026.
Namun, angka statistik menunjukkan bahwa implementasinya di kedua klub menghasilkan cerita berbeda.
Bersama NAC Breda di Eerste Divisie 2023/2024, Van Gastel mencatat 13 kemenangan, 10 imbang, dan delapan kekalahan dari 31 pertandingan liga yang tercatat BeSoccer. NAC mencetak 52 gol dan kebobolan 41 gol. Sementara di PSIM pada Super League 2025/2026, Van Gastel membukukan 11 kemenangan, 12 imbang, dan 11 kekalahan dalam 34 pertandingan, dengan 43 gol dan 44 kebobolan.
Jika dihitung dari data tersebut, NAC memiliki produktivitas sekitar 1,68 gol per pertandingan, sedangkan PSIM sekitar 1,26 gol per pertandingan. Sebaliknya, pertahanan PSIM juga lebih ketat dalam angka kebobolan dibandingkan NAC.
Bukan Sekadar Penguasaan Bola
Karakter Van Gastel bukan sekadar soal siapa yang paling lama memegang bola. Saat menangani NAC, ia menuntut timnya agresif ketika kehilangan bola.
Dalam pertandingan melawan Jong Ajax pada November 2023, misalnya, Van Gastel menyebut pemainnya melakukan pressing dan mengejar lawan dengan energi tinggi. Namun ia juga mengakui masih ada persoalan dalam penguasaan bola di area akhir dan penyelesaian peluang.
Hal serupa terlihat dari perjalanan NAC di bawah Van Gastel. Klub tersebut akhirnya menembus Eredivisie melalui jalur play-off. NAC mengalahkan Roda JC dan FC Emmen sebelum menaklukkan Excelsior dalam drama final dan memastikan promosi.
Artinya, permainan Van Gastel memiliki dua wajah: ingin mengontrol pertandingan melalui bola, tetapi tetap membutuhkan agresivitas ketika kehilangan penguasaan.
Di PSIM, pendekatan tersebut kembali terlihat. Bedanya, kebutuhan Laskar Mataram pada musim pertama Van Gastel di kasta tertinggi membuat aspek kontrol dan stabilitas menjadi lebih penting.
PSIM tidak selalu bisa bermain dengan intensitas menyerang seperti NAC ketika menghadapi lawan yang secara kualitas skuad lebih kuat. Karena itu, penguasaan bola menjadi semacam alat untuk mengontrol tempo sekaligus mengurangi tekanan lawan.
Musim Kedua Bisa Jadi Titik Evolusi
Menariknya, Van Gastel kini memasuki musim kedua bersama PSIM.
Pengalaman satu musim penuh di Indonesia membuatnya sudah memiliki gambaran mengenai karakter kompetisi, pemain, lawan, hingga atmosfer pertandingan. Karena itu, musim 2026/2027 berpotensi menjadi periode ketika filosofi Van Gastel mengalami evolusi.
Bukan meninggalkan possession football, tetapi membuatnya lebih efektif.
Di NAC, Van Gastel memiliki tim yang dibangun untuk mengejar promosi. Di PSIM, ia awalnya harus membangun fondasi agar tim mampu bertahan di kasta tertinggi.
Kini tuntutannya berbeda.
PSIM sudah melewati musim pertama. Van Gastel tidak lagi sekadar memperkenalkan identitas permainan. Ia dituntut membuat identitas tersebut menghasilkan lebih banyak kemenangan.
Dan angka musim lalu memberi pekerjaan rumah yang cukup jelas: 43 gol dalam 34 pertandingan dan 11 kemenangan masih bisa ditingkatkan.
Kalau PSIM ingin naik level, bukan tidak mungkin Van Gastel harus membawa sedikit “DNA NAC” ke Yogyakarta: lebih agresif, lebih tajam di sepertiga akhir, tetapi tetap mempertahankan struktur permainan yang menjadi ciri khasnya.
Filosofinya boleh sama. Namun musim kedua menuntut hasil yang berbeda.
Dengan perjalanan NAC yang berujung promosi ke Eredivisie sebagai salah satu bukti terbaik dalam karier kepelatihannya, Van Gastel kini punya tantangan baru: membawa PSIM bukan sekadar menjadi penghuni Super League, tetapi perlahan menjadi tim yang mampu bersaing di papan atas.














