Pieter Huistra kembali mendapatkan panggung besar bersama PSS Sleman. Setelah sempat menangani Super Elang Jawa pada paruh kedua musim 2024/2025, pelatih asal Belanda itu kini kembali dipercaya sebagai nakhoda PSS untuk menghadapi BRI Super League 2026/2027.
Keputusan tersebut menarik jika melihat rekam jejak Huistra. Ia bukan pelatih yang hanya memiliki pengalaman di sepak bola Indonesia. Sebelum kembali berkarier di Tanah Air, Huistra telah menangani sejumlah klub di Eropa dan Asia, termasuk FC Groningen, De Graafschap, serta Pakhtakor Uzbekistan.
Secara keseluruhan, data Transfermarkt mencatat Huistra telah memimpin 256 pertandingan sebagai pelatih kepala, dengan catatan 123 kemenangan, 51 imbang, dan 82 kekalahan. Artinya, ia memiliki persentase kemenangan sekitar 48,0 persen dengan rata-rata 1,68 poin per pertandingan.
Perjalanan di Belanda
Karier Huistra sebagai pelatih kepala di level profesional dimulai bersama FC Groningen.
Pada periode 2010 hingga 2012, ia menangani Groningen dalam 77 pertandingan. Rekornya adalah 32 kemenangan, 13 imbang, dan 32 kekalahan, atau persentase kemenangan sekitar 41,6 persen dengan rata-rata 1,42 poin per pertandingan.
Setelah itu, Huistra melanjutkan perjalanan bersama De Graafschap. Dalam 59 pertandingan, ia membukukan 24 kemenangan, 16 imbang, dan 19 kekalahan. Persentase kemenangannya mencapai sekitar 40,7 persen, dengan rata-rata 1,49 poin per pertandingan.
Dua periode tersebut menunjukkan satu hal: Huistra sudah memiliki pengalaman membangun tim di kompetisi Eropa jauh sebelum datang ke Indonesia.
Titik Tertinggi: Juara Uzbekistan
Salah satu catatan terbaik Huistra justru datang ketika menangani Pakhtakor Tashkent di Uzbekistan.
Huistra ditunjuk sebagai pelatih kepala pada Januari 2021 setelah sebelumnya menjadi asisten Shota Arveladze di klub tersebut. Dalam 37 pertandingan sebagai pelatih kepala, ia mencatat 24 kemenangan, tujuh imbang, dan enam kekalahan.
Persentase kemenangannya mencapai 64,9 persen, sementara rata-rata poinnya mencapai 2,14 poin per pertandingan. Angka tersebut menjadi yang tertinggi di antara klub-klub profesional yang pernah ditanganinya dalam catatan Transfermarkt.
Lebih penting lagi, Huistra membawa Pakhtakor menjadi juara Uzbekistan Super League 2021. Gelar tersebut menjadi titel liga pertamanya sebagai pelatih kepala.
Di Indonesia: Borneo FC Jadi Bukti Paling Kuat
Rekam jejak Huistra di Indonesia paling menonjol ketika menangani Borneo FC.
Datanya mencatat Huistra memimpin 72 pertandingan, dengan 38 kemenangan, 15 imbang, dan 19 kekalahan. Persentase kemenangannya mencapai sekitar 52,8 persen, sedangkan rata-rata poinnya berada di angka 1,79 per pertandingan.
Puncaknya terjadi pada musim 2023/2024.
Borneo FC tampil sebagai juara fase reguler Liga 1 dengan 70 poin dari 34 pertandingan, unggul delapan poin dari Persib Bandung. Pada Februari 2024, ketika kompetisi masih berjalan, Borneo bahkan mencatat 16 kemenangan, enam imbang dan hanya dua kekalahan dari 24 laga.
Catatan tersebut memperlihatkan Huistra mampu membawa tim menjadi kekuatan utama kompetisi Indonesia.
PSS: Catatan Pendek, Tantangan Besar
Berbeda dengan Borneo, periode pertama Huistra bersama PSS berlangsung singkat.
Ia datang pada 19 Februari 2025 ketika PSS sedang berjuang keluar dari zona degradasi. Dalam 11 pertandingan, Huistra mencatat lima kemenangan dan enam kekalahan, tanpa satu pun hasil imbang. Rata-rata poinnya 1,36 per pertandingan.
Namun, konteksnya penting.
Huistra datang ketika situasi PSS sudah sangat sulit. Pada akhirnya, Super Elja tetap terdegradasi ke Liga 2. Meski demikian, manajemen PSS menilai ada peningkatan dalam periode kepemimpinannya. Bahkan, empat pertandingan terakhir di bawah Huistra berhasil dimenangi PSS.
Bukan Pelatih, tetapi Tetap Punya Peran Besar
Musim berikutnya menjadi fase berbeda.
Karena regulasi Championship 2025/2026, Huistra tidak duduk sebagai pelatih kepala. Ia justru ditempatkan sebagai Direktur Teknik PSS.
Karena posisinya bukan pelatih kepala, tidak ada statistik menang-seri-kalah yang bisa digunakan untuk menilai kinerjanya seperti ketika menangani tim secara langsung. Transfermarkt juga tidak memasukkan pertandingan untuk periode tersebut.
Tetapi perannya tidak berarti pasif.
Huistra terlibat dalam aspek teknis, termasuk integrasi pemain baru, pematangan skuad dan penyamaan visi permainan. Dalam fase putaran ketiga Championship, misalnya, ia secara aktif memberikan arahan mengenai kesiapan fisik, integrasi pemain baru dan konsep permainan tim.
PSS kemudian berhasil mengamankan tiket promosi ke Super League 2026/2027.
Manajemen klub pun menilai pengalaman, visi dan pemahaman Huistra terhadap karakter PSS menjadi alasan penting untuk kembali memberinya jabatan pelatih kepala.
Jika hanya melihat angka, periode terbaik Huistra jelas terjadi di Pakhtakor. Namun, untuk sepak bola Indonesia, rekam jejak bersama Borneo FC justru menjadi referensi yang lebih relevan.
Di Samarinda, Huistra menunjukkan bahwa dirinya mampu membangun tim yang kompetitif di Liga Indonesia. Ia tidak sekadar mengejar kemenangan sesaat, tetapi membawa Borneo menjadi penguasa fase reguler Liga 1 2023/2024.
Kini tantangannya berbeda.
Huistra kembali ke PSS dengan pengalaman yang lebih panjang di Indonesia. Ia juga sudah mengenal klub dari dalam karena pernah menjadi pelatih kepala dan kemudian direktur teknik.
Jadi, Super League 2026/2027 bukan sekadar kesempatan kedua Huistra sebagai pelatih PSS. Ini menjadi ujian apakah rekam jejak terbaiknya di Borneo dan Pakhtakor bisa diterjemahkan untuk membawa Super Elja bersaing di kasta tertinggi.














