Tidak banyak pesepak bola asal Kosta Rika yang memilih berkarier di Liga Indonesia. Setelah Diego Campos yang sempat memperkuat Bali United pada pertengahan musim lalu, kini giliran Marvin Loria yang mencoba peruntungan di Tanah Air.
Winger berusia 29 tahun tersebut menjadi bagian dari PSIM Jogja untuk menghadapi kompetisi musim 2026/2027. Kedatangannya sekaligus menambah warna dalam skuad Laskar Mataram, mengingat pemain asal Kosta Rika masih terbilang langka di sepak bola Indonesia.
Marvin baru sekitar dua pekan berada di Yogyakarta. Namun, pemain kelahiran 24 April 1997 itu mengaku tidak membutuhkan waktu lama untuk merasa nyaman dengan lingkungan barunya.
Menurutnya, suasana Yogyakarta memiliki kemiripan dengan Kosta Rika, terutama dari sisi cuaca dan keramahan masyarakat.
“Cuaca dan orang-orangnya menyenangkan, mirip dengan negara saya di Kosta Rika,” ungkap Marvin.
Kondisi tersebut membuat proses adaptasi berjalan lebih mudah. Ia mengaku menikmati pengalaman barunya sejak bergabung dengan PSIM.
“Sejauh ini saya merasa baik dan senang berada di sini,” lanjutnya.
Sebelum datang ke Indonesia, Marvin merupakan bagian dari Deportivo Saprissa, klub kasta tertinggi Liga Kosta Rika. Pengalaman tersebut menjadi modal bagi sang winger untuk menghadapi tantangan baru bersama PSIM.
Marvin juga merasa proses adaptasinya di dalam tim berjalan positif. Ia tidak mengalami kendala berarti ketika mulai mengikuti program latihan di bawah arahan pelatih asal Belanda, Jean-Paul van Gastel.
“Semua rekan setim saya adalah orang-orang yang baik dan menyenangkan. Saya merasa nyaman di sini,” terangnya.
Dukungan dari para pemain yang lebih dulu berkarier di Indonesia turut membantu Marvin memahami karakter sepak bola Tanah Air. Beberapa pemain PSIM seperti Ze Valente dan Vidal disebut banyak membantunya memahami instruksi Van Gastel sekaligus mengenal lebih jauh lingkungan sepak bola Indonesia.
Bagi Marvin, kebersamaan tersebut menjadi modal penting untuk membangun kekuatan PSIM menghadapi musim baru.
“Kami adalah sebuah keluarga yang berusaha berjuang untuk segalanya,” katanya.
Seiring waktu, Marvin juga mulai memahami identitas PSIM dan atmosfer sepak bola Yogyakarta. Ia menyadari bahwa klub berjuluk Laskar Mataram tersebut memiliki sejarah panjang serta basis pendukung yang kuat.
“Tetapi yang pasti, PSIM adalah klub besar di sini, di Indonesia,” cetusnya.
Kenyamanan Marvin di Yogyakarta menjadi modal positif sebelum menjalani debut kompetitif bersama PSIM. Kini, tantangan berikutnya adalah membuktikan kualitasnya di lapangan sekaligus membantu Laskar Mataram meraih target pada musim 2026/2027.














