Gelombang kekecewaan Sleman Fans makin tak terbendung. Usai Super Elang Jawa catat hasil buruk di awal Super League 2026/2027, wadah suporter Brigata Curva Sud (BCS) tegas layangkan ultimatum ke manajemen dan pelatih kepala PSS Sleman Pieter Huistra.
Tiga kekalahan beruntun tanpa satu poin pun jadi pemantik amarah suporter yang bermarkas di Tribun Selatan Maguwoharjo International Stadium (MagIS) itu. BCS tegasin batas toleransi buat juru taktik asal Belanda itu tinggal sisa dua laga. Jika PSS kembali kalah sampai genap lima kali, bakal ada konsekuensi buat manajemen dan tim pelatih.
Perwakilan BCS Anton Nugroho nyatakan kekecewaan mendalam atas hasil minus Laskar Sembada di tiga laga awal. Hasil buruk pas lawan Dewa United di laga terakhir jadi alarm keras kalau performa tim sama sekali belum nunjukin grafik perbaikan.
“Kami hanya ingin bertanya dengan manajemen, ini sebenarnya ada apa. PSS kalah tiga pertandingan, nol poin. Kami ultimatum manajemen, jika pertandingan lawan PSM gagal (kalah), maka kami ingin Pieter Huistra out,” jelasnya, Rabu (23/9).
Nada gertakan dan keprihatinan BCS itu sebelumnya juga tercermin di unggahan simbolis di medsos mereka yang nampilin visual lima lambang hati. Tiga hati yang hancur melambangkan tiga kekalahan beruntun yang udah ditelan PSS Sleman.
“Dalam postingan kami ada lima hati. Tiga hati sudah hancur, itu tandanya tiga laga kita sudah mengalami kekalahan. Masih sisa dua hati lagi. Jadi kami inginnya dan berharapnya PSS bisa menang dalam dua laga ke depan. Lawan PSM kami ingin kemenangan,” beber Anton.
Laga kandang lawan PSM Makassar mendatang bakal jadi ujian penghakiman buat Pieter Huistra. Pertandingan itu bukan cuma soal buru tiga poin perdana, tapi juga penentu nasib dan masa depannya di kursi pelatih PSS Sleman.
“Pokoknya kami meminta kemenangan,” tandasnya.
Tekanan dari selatan Maguwoharjo makin panas, PSM jadi laga hidup-mati buat PSS.
















