Memasuki bulan Oktober, PSIM Jogja】 dihadapkan rangkaian pertandingan yang cukup padat di lanjutan BRI Super League 2026/2027. Laskar Mataram bakal jalanin total empat pertandingan dalam waktu 14 hari, dengan dua laga kandang dan dua tandang.
Kondisi itu dateng setelah PSIM lewatin awal musim yang belum sesuai harapan. Dari tiga laga yang dimainin sepanjang September, Laskar Mataram baru koleksi satu poin hasil imbang 1-1 lawan Persita Tangerang di laga pembuka 5 September.
Setelah itu, PSIM telan dua kekalahan beruntun. Kalah 0-1 dari Persebaya Surabaya di Stadion Gelora Bung Tomo pada 13 September, sebelum kembali takluk 1-2 dari Madura United di Pamekasan pada 18 September.
Setelahnya, PSIM dapet waktu cukup panjang tanpa laga kompetitif. Skuad diliburin pada 19 hingga 26 September bertepatan dengan jeda FIFA Matchday. Tim kembali latihan pada 27 September lalu. Maka, ada rentang 22 hari dari laga lawan Madura United pada 18 September hingga laga berikutnya kontra Persija pada 10 Oktober.
PSIM bakal buka Oktober dengan jamu Persija Jakarta di Stadion Sultan Agung (SSA), Bantul, pada 10 Oktober. Enam hari berselang, PSIM kembali main di kandang dengan hadapi PSM Makassar pada 16 Oktober.
Setelah itu, PSIM harus jalanin dua laga tandang beruntun. Tim besutan Jean Paul Van Gastel bertandang ke markas Bhayangkara FC di Lampung pada 20 Oktober. Empat hari kemudian, PSIM lanjut perjalanan ke Kalimantan Tengah buat hadapi Isenmulang FC di Stadion Tuah Pahoe pada 24 Oktober.
Artinya, PSIM bakal main empat pertandingan cuma dalam rentang dua pekan. Bahkan, masuk periode itu, jeda pertandingan makin pendek. Setelah hadapi PSM pada 16 Oktober, PSIM cuma punya waktu empat hari sebelum tandang ke Lampung. Empat hari berikutnya, tim kembali jalanin laga tandang di Kalimantan Tengah.
Kondisi itu jadi perhatian Van Gastel terhadap kalender kompetisi musim ini. Pelatih asal Belanda itu sadar distribusi jadwal pertandingan yang menurutnya gak sepenuhnya ideal.
Van Gastel bahkan nyebut jadwal musim ini sebagai sesuatu yang gila. Menurutnya, penundaan laga karena agenda Timnas maupun Piala Asia memang bisa dipahami. Tapi, konsekuensinya adalah adanya periode tertentu ketika pertandingan harus dimainin dalam waktu berdekatan.
“Jadwalnya sudah ada dan ditentukan penyelenggara kompetisi. Tapi harus diakui, kita akan menghadapi jadwal pertandingan yang gila,” kata Van Gastel, Rabu (30/9).
Van Gastel jelasin, salah satu tantangannya adalah gimana pertandingan numpuk di periode tertentu, dan jadwal yang cukup deket, kayak di periode Oktober.
“Ada periode kami harus memainkan banyak laga di waktu singkat, seperti yang terjadi di Oktober,” paparnya.
Bagi PSIM, padatnya jadwal juga berkaitan sama kebutuhan jaga kondisi pemain. Empat laga Oktober gak cuma hadirin dua laga kandang, tapi juga dua perjalanan tandang dengan jarak yang cukup jauh.
Van Gastel sejak awal musim memang sadar pentingnya proses adaptasi dan kesiapan seluruh anggota skuad. Saat mulai latihan pramusim, dia nyebut persiapan dilakuin secara bertahap setelah pemain jalanin libur.
“Kami memulainya secara perlahan untuk mempersiapkan mereka menghadapi liga,” ujar Van Gastel.
Pelatih asal Belanda itu juga nilai kedalaman skuad jadi bagian penting dalam hadapi musim yang lebih kompetitif. Sejak awal, PSIM datengin sejumlah pemain baru dengan harapan bisa ningkatin kualitas tim dibanding musim sebelumnya.
“Kami datangkan beberapa pemain baru. Ada karakter dan tipe pemain tertentu yang menurut kami memang kami butuh,” ulasnya.
















