Manajemen PSIM Jogja menegaskan komitmennya membangun Elite Pro Academy (EPA) dengan sistem pembinaan yang bersih, profesional, dan bebas dari praktik percaloan maupun jual beli slot pemain. Memasuki musim kedua mengelola EPA, Laskar Mataram ingin memastikan pembinaan usia muda benar-benar menjadi investasi jangka panjang, bukan ladang bisnis.
Direktur Utama PSIM Jogja Liana Tasno menegaskan, pengembangan pemain muda merupakan salah satu prioritas utama klub. Karena itu, seluruh proses seleksi dan pembinaan harus berjalan secara transparan serta menjunjung tinggi integritas.
“Saya betul-betul berjuang untuk investasi di situ. Saya kepengennya itu di bawah manajemen PSIM dan benar-benar berjalan dengan penuh integritas,” ujar Liana, Rabu (29/7).
Menurut Liana, praktik meminta uang kepada orang tua pemain atau memperjualbelikan slot di tim akademi sama sekali tidak mendapat tempat di PSIM. Ia memastikan seluruh proses dilakukan berdasarkan kualitas pemain, bukan kemampuan finansial keluarga.
“Tidak ada yang namanya kita ambil uang dari orang tua murid di EPA. Saya tidak pernah jual slot, saya tidak pernah makelar. Itu benar-benar untuk pengembangan usia muda yang nanti menjadi wadah menuju tim profesional,” tegasnya.
Keberadaan EPA sendiri merupakan kewajiban bagi seluruh peserta BRI Super League. Setiap klub harus memiliki tim U-16, U-18, dan U-20 sebagai bagian dari sistem pembinaan pemain muda yang berkelanjutan.
Namun bagi PSIM, keberadaan EPA bukan sekadar memenuhi regulasi kompetisi. Liana berharap akademi tersebut mampu menjadi fondasi lahirnya pemain-pemain lokal yang suatu saat dapat menembus tim utama Laskar Mataram.
Untuk memperkuat program tersebut, PSIM kembali menunjuk Erwan Hendarwanto sebagai Direktur Akademi sekaligus penanggung jawab EPA. Sosok yang dikenal berpengalaman dalam pembinaan usia muda itu dipercaya menjaga kualitas program sekaligus memastikan budaya integritas diterapkan di seluruh jenjang akademi.
“Coach Erwan saya minta tolong menjaga itu. Kalau tidak cocok dengan nilai integritas yang dimiliki PSIM, jangan ada di sini,” tandas Liana.
Dengan sikap tegas tersebut, PSIM ingin membangun akademi yang tidak hanya melahirkan pemain berbakat, tetapi juga menjadi contoh tata kelola pembinaan sepak bola usia muda yang bersih dan profesional di Indonesia.














