Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Super League

PSIM Jogja Tumbang Tiga Kali Beruntun, Van Gastel Soroti Inkonsistensi Tim

10
×

PSIM Jogja Tumbang Tiga Kali Beruntun, Van Gastel Soroti Inkonsistensi Tim

Sebarkan artikel ini

mainbola.co  – PSIM Jogja kembali menelan hasil mengecewakan setelah takluk 1-2 dari Bhayangkara Presisi FC pada lanjutan BRI Super League pekan ke-28, Jumat (17/4).

Kekalahan ini memperpanjang tren negatif Laskar Mataram menjadi tiga laga beruntun, setelah sebelumnya juga tumbang dari Dewa United dan PSM Makassar.

PSIM sejatinya tampil menjanjikan di babak pertama. Mereka mampu mengontrol permainan dengan baik, menjaga penguasaan bola, serta membangun serangan rapi dari lini ke lini. Keunggulan lebih dulu pun berhasil diamankan berkat pemanfaatan celah di lini pertahanan lawan.

Namun, performa tersebut tidak berlanjut selepas jeda. Memasuki babak kedua, PSIM kehilangan ritme permainan. Intensitas menurun dan konsentrasi pemain terlihat goyah, terutama dalam mengantisipasi situasi bola mati yang kembali menjadi titik lemah.

Pelatih PSIM, Jean Paul van Gastel, menyoroti inkonsistensi timnya yang dinilai seperti memiliki dua wajah berbeda dalam satu pertandingan.

“Di babak pertama kami mampu menciptakan peluang dan menemukan solusi, tapi di babak kedua kami kembali bermasalah dalam situasi bola mati,” ujar Van Gastel.

Ia menegaskan, masalah kebobolan dari skema bola mati bukan kali pertama terjadi. Selain itu, lemahnya pengawalan terhadap pemain lawan turut berkontribusi pada gol kedua Bhayangkara FC.

“Kami kembali kebobolan dari bola mati dan pada gol kedua kami gagal mengawal pemain yang bergerak bebas hingga memberikan umpan,” lanjutnya.

Dalam kondisi tertinggal, PSIM mencoba tampil lebih agresif dengan strategi menyerang total. Namun pendekatan tersebut justru membuka ruang bagi Bhayangkara FC untuk melancarkan serangan balik berbahaya.

“Setelah tertinggal 1-2 kami bermain menyerang total. Dalam situasi seperti itu lawan juga mendapat peluang. Ini sangat mengecewakan karena sebenarnya ini kekalahan yang tidak perlu terjadi,” tegas Van Gastel.

Kapten tim PSIM, Reva Adi Utama, juga mengakui timnya gagal menjaga konsistensi sepanjang pertandingan, khususnya di babak kedua.

“Di babak pertama rencana tim berjalan dengan baik, kami bisa mengontrol permainan. Tapi di babak kedua kami sedikit kehilangan fokus, terutama di situasi bola mati. Ini harus jadi perhatian kami ke depan,” kata Reva.

Di sisi lain, Bhayangkara FC justru menunjukkan respons positif setelah tertinggal lebih dulu. Perubahan strategi di babak kedua menjadi kunci kebangkitan mereka.

Pelatih Bhayangkara FC, Paul Munster, menyebut kemenangan ini sebagai hasil dari evaluasi tim yang berjalan efektif.

“Hal terpenting adalah respons tim. Di babak kedua kami mengubah strategi dan itu membantu kami mendapatkan tiga poin,” ujar Munster.

Ia juga mengapresiasi mentalitas pemainnya yang mampu bangkit dari tekanan.

“Menurut saya para pemain tetap fokus dan mampu membalikkan keadaan, itu hal yang bagus,” pujinya.

Salah satu pemain Bhayangkara FC, Sho Yamamoto, mengakui laga berjalan sulit sejak awal. Namun kerja keras tim akhirnya membuahkan hasil maksimal.

“Pertandingan yang sulit. Kami sempat kebobolan lebih dulu, tapi kami bisa bangkit dan akhirnya menang. Saya senang dengan hasil ini,” ujarnya.


Catatan Evaluasi PSIM Jogja

Kekalahan ini kembali menegaskan pekerjaan rumah besar bagi PSIM Jogja, terutama dalam menjaga konsistensi permainan dan memperbaiki koordinasi saat menghadapi situasi bola mati.

Jika tidak segera dibenahi, tren negatif ini berpotensi terus berlanjut dan semakin menjauhkan Laskar Mataram dari target yang telah ditetapkan di musim ini.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *