Musim kedua di kasta tertinggi seharusnya membuat PSIM Jogja lebih tenang. Bukan lagi sekadar belajar bagaimana bertahan hidup. Laskar Mataram sudah melewati fase itu.
Musim lalu, setelah 18 tahun berkutat di Liga 2, PSIM akhirnya kembali ke panggung tertinggi sepak bola Indonesia. Misi Jean Paul Van Gastel ketika itu sederhana: jangan sampai kembali turun kasta.
Target tersebut berhasil dituntaskan. PSIM menutup musim 2025/2026 di posisi ke-11 dengan 45 poin. Secara angka, mereka bahkan memiliki poin yang sama dengan penghuni peringkat ke-10, hanya kalah dalam selisih gol.
Tetapi memasuki musim kedua, standar PSIM mulai berubah.
Van Gastel kini tidak lagi hanya mencari cara agar timnya bertahan di Super League. Pelatih asal Belanda tersebut mulai membongkar lebih dalam persoalan permainan yang masih mengganjal.
Dan salah satu persoalan itu ternyata berasal dari sesuatu yang selama ini menjadi identitas PSIM: pressing agresif. PSIM ingin menekan lawan. PSIM ingin merebut bola lebih cepat. PSIM ingin bermain dengan intensitas tinggi. Tetapi sepak bola punya hukum sebab-akibat.
Ketika garis depan bergerak maju untuk menekan, ruang di belakang ikut terbuka. Dan di situlah Van Gastel menemukan konsekuensinya.
“Ketika kami melakukan pressing secara agresif, itu berarti lini belakang kami menjadi lebih terbuka. Jadi, situasi tersebut juga membuat kami lebih sulit untuk bertahan.”
Ini bukan berarti Van Gastel ingin PSIM meninggalkan pressing.
Justru sebaliknya.Pressing tetap menjadi bagian penting dari identitas permainan Laskar Mataram. Yang sedang dicari adalah keseimbangan. Seberapa tinggi PSIM harus menekan?
Kapan harus mengejar bola? Kapan harus berhenti?
Dan siapa yang harus mengamankan ruang ketika pressing pertama gagal?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu menjadi pekerjaan rumah PSIM memasuki musim keduanya. Sebab di Super League, keberanian menekan saja tidak cukup. Sebuah tim juga harus siap menghadapi konsekuensi ketika tekanannya dilewati.
Pengalaman musim lalu menjadi modal penting untuk menjawab persoalan tersebut.
PSIM kini tidak lagi bekerja dengan perkiraan. Van Gastel sudah memiliki satu musim penuh sebagai bahan evaluasi. Ia sudah tahu kapan timnya terlihat kuat. Ia juga tahu kapan struktur permainan mulai kehilangan keseimbangan.
Dan bukan hanya pressing yang menjadi masalah. Ada persoalan lain yang tak kalah penting: sepertiga akhir lapangan. PSIM bisa bermain agresif. PSIM bisa menguasai permainan.
Tetapi ketika menghadapi lawan yang memilih menumpuk pemain di belakang, cerita bisa berubah. Ruang menyempit.
Jalur umpan semakin sedikit.Dan setiap keputusan di sekitar kotak penalti menjadi jauh lebih penting.Van Gastel mengakui PSIM masih kesulitan dalam situasi tersebut.
“Kami memang memiliki beberapa masalah dalam penyelesaian di sepertiga akhir. Kami memahami bahwa sulit untuk menghadapi tim yang bermain low block.”Artinya, pekerjaan PSIM musim ini bukan sekadar membuat pressing lebih efektif.Mereka juga harus menemukan cara untuk membongkar pertahanan yang tidak mau keluar dari sarangnya.Dua persoalan itu kemudian ikut emengaruhi kebijakan transfer.PSIM tidak sekadar mencari pemain baru untuk memperpanjang bangku cadangan.Pemain-pemain baru didatangkan dengan karakter yang diharapkan mampu menjawab masalah yang sudah terlihat.
Van Gastel ingin memiliki lebih banyak variasi.Jika satu pendekatan tidak berhasil, ada alternatif.Jika pressing terlalu berisiko, ada cara lain untuk mengontrol pertandingan.Jika lawan bermain low block, PSIM harus punya lebih dari satu cara untuk membuka pertahanan.
“Kami datangkan beberapa pemain dengan karakter yang berbeda agar mudah-mudahan bisa menutupi persoalan yang kami miliki musim lalu.”Di sinilah musim kedua PSIM menjadi menarik.
Musim pertama adalah tentang bertahan di Super League.
Musim kedua mulai berbicara tentang bagaimana menjadi lebih matang di dalamnya.Dan kematangan itu bukan hanya soal mendapatkan pemain yang lebih bagus.Tetapi soal bagaimana PSIM mengendalikan konsekuensi dari gaya bermainnya sendiri.Menekan tanpa membuka terlalu banyak ruang.
Menyerang tanpa kehilangan keseimbangan.Menguasai bola tanpa buntu ketika lawan memilih bertahan rendah.PSIM sudah tahu bagaimana rasanya hidup di kasta tertinggi.Sekarang tantangannya lebih berat. Mereka harus belajar menguasainya.
















