Euforia Argentina di Piala Dunia 2026 belum benar-benar berakhir. Di balik status sebagai finalis dan salah satu tuan rumah Piala Dunia 2030, La Albiceleste kini justru harus menghadapi “laga” lain yang tak kalah berat. Kali ini lawannya bukan tim di atas lapangan, melainkan Komite Disiplin FIFA.
Federasi Sepak Bola Dunia resmi membuka proses penyelidikan terhadap Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) menyusul serangkaian kontroversi yang terjadi sepanjang turnamen. Menariknya, investigasi ini bukan hanya menyasar federasi, tetapi juga beberapa pemain dan ofisial yang diduga terlibat dalam berbagai pelanggaran.
Ada empat kasus yang kini menjadi fokus FIFA. Jika terbukti melanggar Kode Disiplin, sanksi yang dijatuhkan bisa berdampak panjang, bahkan berpotensi membuat sejumlah pemain kehilangan kesempatan tampil di Piala Dunia 2030.
- Spanduk Malvinas, Selebrasi yang Berujung Masalah
Kontroversi pertama muncul seusai Argentina menyingkirkan Inggris 2-1 di semifinal. Sejumlah pemain merayakan kemenangan dengan membentangkan spanduk bertuliskan “Las Malvinas son Argentinas”.
Bagi masyarakat Argentina, tulisan itu merupakan simbol nasionalisme. Namun, bagi FIFA, tindakan tersebut diduga telah membawa isu politik ke dalam pertandingan sepak bola internasional.
Inilah yang kini sedang dikaji. FIFA ingin memastikan apakah selebrasi tersebut melanggar aturan yang melarang penggunaan sepak bola sebagai media penyampaian pesan politik atau kepentingan di luar olahraga.
- Dugaan Nyanyian Diskriminatif
Kasus kedua menyangkut dugaan tindakan diskriminatif yang melibatkan tim maupun pendukung Argentina.
FIFA sedang memeriksa laporan mengenai nyanyian, gestur, hingga perilaku yang diduga mengandung unsur diskriminasi dan rasisme selama turnamen berlangsung.
Isu ini menjadi perhatian serius karena dalam beberapa tahun terakhir FIFA terus memperketat penegakan aturan terkait diskriminasi di stadion.
- Pelanggaran Protokol Pertandingan
Tidak hanya soal perilaku pemain, FIFA juga menyoroti aspek penyelenggaraan pertandingan yang melibatkan Argentina.
Mulai dari dugaan keterlambatan kick-off, pelanggaran terhadap protokol pertandingan, hingga pelemparan benda dari tribun penonton ikut masuk dalam berkas penyelidikan.
Sekilas mungkin terlihat sebagai pelanggaran administratif. Namun, FIFA menilai hal-hal seperti ini berkaitan langsung dengan integritas dan keamanan pertandingan sehingga tidak bisa dianggap sepele.
- Kericuhan Final Jadi Sorotan Utama
Kasus yang paling berpotensi berujung hukuman berat terjadi setelah final melawan Spanyol.
Keributan antarpemain seusai peluit panjang membuat FIFA memanggil beberapa nama besar. Leandro Paredes diperiksa atas dugaan tindakan agresif terhadap Eric Garcia, sementara Nahuel Molina juga diduga terlibat kontak fisik dengan Rodri.
Selain dua pemain tersebut, Thiago Almada, asisten pelatih Roberto Ayala, hingga gelandang Spanyol Gavi juga masuk dalam daftar pihak yang dimintai keterangan.
Dampaknya Bisa Sampai Piala Dunia 2030
Yang membuat kasus ini semakin menarik adalah status Argentina sebagai salah satu tuan rumah Piala Dunia 2030.
Karena otomatis lolos tanpa menjalani babak kualifikasi, pertandingan resmi FIFA berikutnya bagi Argentina kemungkinan baru dimulai saat Piala Dunia 2030 bergulir.
Artinya, apabila FIFA menjatuhkan hukuman larangan bertanding kepada pemain yang terbukti bersalah, sanksi tersebut bisa langsung berlaku pada laga pembuka Piala Dunia 2030. Situasi itu tentu menjadi ancaman serius bagi pemain-pemain senior yang mungkin sudah tidak memiliki kesempatan tampil di edisi berikutnya.
Saat ini FIFA masih mengumpulkan bukti, mempelajari rekaman pertandingan, dan mendengarkan pembelaan dari seluruh pihak yang diperiksa. Belum ada keputusan final mengenai sanksi yang akan dijatuhkan.
Namun satu hal sudah pasti. Argentina kini bukan hanya menunggu hasil investigasi, tetapi juga mempertaruhkan reputasi salah satu kekuatan terbesar sepak bola dunia. Jika terbukti melakukan pelanggaran, dampaknya bukan sekadar denda atau teguran, melainkan bisa memengaruhi kekuatan La Albiceleste saat tampil di panggung Piala Dunia 2030.
















