Perjalanan PSIM Jogja pada Super League 2025/2026 tidak bisa dilepaskan dari kontribusi para pemain asing. Di tengah ketatnya persaingan kasta tertinggi sepak bola Indonesia, Laskar Mataram mengandalkan 11 legiun asing dengan peran yang berbeda-beda.
Ada yang menjadi tulang punggung sejak pekan pertama, ada yang datang pada putaran kedua dan langsung mengubah wajah permainan tim, hingga ada pula yang kesulitan mendapatkan menit bermain. Jika diukur berdasarkan konsistensi tampil, menit bermain, kontribusi terhadap kemenangan, serta pengaruh terhadap raihan poin, satu nama layak berada di puncak daftar, yakni Franco Ramos Mingo.
Bek asal Argentina itu menjadi sosok paling berpengaruh di skuad PSIM sepanjang musim. Sebagai kapten, Franco hampir tidak tergantikan di jantung pertahanan. Selain tampil konsisten, ia juga mampu mencetak gol-gol penting yang membantu Laskar Mataram mengamankan poin dalam sejumlah pertandingan krusial.
Di belakang Franco, Zé Valente menjadi motor permainan sekaligus pembeda di lini tengah. Kreativitas, kemampuan mencetak gol, dan kualitas bola matinya menjadikan gelandang asal Portugal tersebut sebagai salah satu pemain paling menentukan sepanjang musim.
Ezequiel Vidal menempati posisi ketiga berkat perannya sebagai kreator serangan. Mobilitas tinggi, visi bermain, serta kontribusi gol dan assist membuatnya menjadi penghubung utama antara lini tengah dan lini depan.
Yusaku Yamadera berada di posisi keempat. Bek kiri asal Jepang itu memang tidak menonjol dalam statistik menyerang, tetapi konsistensinya menjaga keseimbangan permainan membuatnya menjadi salah satu pemain yang paling dipercaya tim pelatih.
Posisi kelima ditempati Jop van der Avert. Meski baru bergabung pada putaran kedua, bek asal Belanda tersebut langsung menjadi tandem ideal Franco Ramos Mingo. Kehadirannya membuat pertahanan PSIM semakin solid pada paruh kedua kompetisi.
Di bawahnya ada Deri Corfe. Penyerang asal Inggris itu menjadi salah satu pemain asing dengan menit bermain terbanyak. Meski produktivitas golnya belum maksimal, etos kerja, pressing, dan perannya membuka ruang memberi kontribusi penting terhadap permainan kolektif tim.
Nermin Haljeta berada di posisi ketujuh. Striker asal Slovenia itu belum tampil seproduktif yang diharapkan, tetapi tetap memberi kontribusi melalui gol, assist, serta kemampuannya menjadi target man di lini depan.
Donny Warmerdam harus puas di posisi kedelapan. Cedera pada awal musim membuat gelandang jebolan akademi Ajax Amsterdam tersebut kehilangan banyak menit bermain sehingga belum mampu menunjukkan pengaruh maksimal.
Anton Fase berada di urutan kesembilan. Kecepatan dan kemampuan individunya sempat menjadi senjata PSIM, tetapi cedera membuat performanya tidak berkembang secara konsisten.
Rahmatshoh Rahmatzoda menempati posisi kesepuluh. Gelandang muda asal Tajikistan itu lebih sering menjadi pelapis sehingga kesempatan menunjukkan kualitasnya cukup terbatas.
Sementara itu, Rafinha berada di posisi terakhir. Persaingan ketat di lini depan membuat pemain asal Brasil tersebut minim kesempatan bermain sehingga kontribusinya terhadap hasil pertandingan tidak terlalu besar.
Hasil evaluasi tersebut sejalan dengan keputusan manajemen yang mempertahankan Franco Ramos Mingo, Zé Valente, Ezequiel Vidal, Yusaku Yamadera, Jop van der Avert, dan Nermin Haljeta sebagai bagian dari skuad untuk menghadapi musim berikutnya. Langkah itu menunjukkan bahwa PSIM tidak hanya menilai statistik individu, tetapi juga konsistensi, karakter, dan pengaruh pemain terhadap performa tim secara keseluruhan.
Jika musim 2025/2026 harus dirangkum dalam satu nama, maka jawabannya adalah Franco Ramos Mingo. Ia bukan hanya bek tangguh dan kapten tim, tetapi juga pemain yang paling konsisten memberi kontribusi terhadap kemenangan dan raihan poin Laskar Mataram sepanjang musim.
















