Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
IndonesiaSuper League

PSIM Bangun Pabrik Pemain

1
×

PSIM Bangun Pabrik Pemain

Sebarkan artikel ini
Direktur Utama PSIM Jogja Yuliana Tasno. (Dok. Pribadi)

PSIM Jogja tak ingin selamanya bergantung pada pasar pemain.

Di balik kesibukan tim utama berkompetisi di level tertinggi, Laskar Mataram mulai menyiapkan proyek yang jauh lebih panjang: membangun sistem pembinaan pemain muda yang bisa menjadi sumber kekuatan klub di masa depan.

Manajemen PSIM telah menyiapkan blueprint Youth Development untuk lima tahun ke depan. Targetnya jelas, talenta muda tidak hanya dibina sampai menjadi pemain bagus, tetapi juga memiliki jalan menuju tim utama.

Direktur Utama PSIM Jogja, Liana Tasno, menyebut proyek tersebut sebagai salah satu ambisi yang ingin digarap serius.

Namun ada satu syarat: pembinaan pemain muda tidak boleh berjalan sendiri tanpa mempertimbangkan kebutuhan tim senior.

“Untuk project Youth Development dari PSIM ini, saya betul-betul mempunyai idealisme tersendiri. Saya mau serius, tapi juga saya harus seimbangkan dengan performa yang ada di first team,” kata Liana, Kamis (10/9).

Karena itu, blueprint tersebut tidak disusun secara terpisah dari tim utama. Liana bersama jajaran kepelatihan, termasuk Asisten Coach Guntur Cahyo Utomo, telah merancang arah pembinaan yang dibuat agar kebutuhan akademi dan tim senior saling terhubung.

“Kita sudah membuat blueprint-nya bersama juga dengan asisten head coach, Coach Guntur yang ada di first team. Kita sudah membuat blueprint-nya untuk lima tahun ke depan,” ujarnya.

Dari sinilah PSIM Akademi Bintang Cendekia (ABC) diproyeksikan menjadi salah satu fondasi masa depan klub.

Bagi Liana, pemain yang lahir dari sistem PSIM ABC harus memiliki dua sisi: kemampuan untuk menjadi bintang dan karakter untuk menjadi manusia yang berguna.

“PSIM Youth ini bisa melahirkan pemain bintang yang Cendekia. Cendekia artinya dia berintegritas, berkarakter baik, dan mempunyai hati yang mau kontribusi untuk nasional. Tapi dia bintang,” jelasnya.

Lebih jauh, akademi tersebut ingin menjadi pintu masuk bagi talenta-talenta muda dari DIJ.

Jadi, pemain berbakat dari daerah tidak berhenti sebagai prospek. Mereka diharapkan masuk ke dalam sistem, berkembang, lalu memiliki jalur yang jelas menuju sepak bola profesional bersama PSIM.

“Ini menjadi wadah bagi potensi-potensi di DIJ dan juga menjadi wadah jalan, jalur untuk potensi-potensi tersebut untuk masuk ke first team PSIM untuk menjalankan karier profesional sepak bola,” tuturnya.

Sebenarnya PSIM sudah mendapatkan gambaran awal dari proyek tersebut.

Pilot project yang sebelumnya dijalankan telah menghasilkan Athaullah Daib. Kiper muda tersebut kemudian mendapat kesempatan bergabung dengan tim utama.

Bagi Liana, kemunculan Daib menjadi sinyal bahwa sistem tersebut bukan sekadar konsep di atas kertas.

“Walaupun kemarin baru pilot project, tapi kita sudah melahirkan satu generasi muda Daib, dari goalkeeper kita. Dan itu membuat saya senang sekali,” ungkapnya.

Liana ingin Daib menjadi awal dari munculnya banyak pemain muda lain yang mampu menembus skuad senior.

Bahkan standar yang dibayangkan lebih tinggi.

Ia ingin suatu hari PSIM ABC bisa melahirkan pemain dengan level seperti Cahya Supriadi.

“Saya kepengin banget melihat sosok Daib yang lain, bahkan maunya ngelihat seperti Cahya Supriadi yang lahir dari PSIM ABC,” pungkasnya.

Jika blueprint lima tahun ini berjalan sesuai rencana, PSIM bukan hanya sedang membangun akademi.

Laskar Mataram sedang mencoba membangun jalur produksinya sendiri: dari talenta lokal, masuk akademi, menembus tim utama, lalu menjadi bintang.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *