Pelatih PSIM Jogja Jean Paul van Gastel menilai persoalan terbesar pemain Indonesia bukan terletak pada semangat atau etos kerja, melainkan kemampuan membaca permainan. Menurut pelatih asal Belanda itu, akar masalah tersebut muncul karena banyak pemain baru mengenal sepak bola secara serius pada usia yang relatif terlambat dibandingkan pemain-pemain Eropa.
Van Gastel mengaku puas dengan sikap dan motivasi pemain lokal yang selama ini ditanganinya di PSIM. Namun, ia menegaskan kualitas individu saja tidak cukup jika pemain belum mampu memahami perubahan situasi di lapangan dengan cepat.
“Saya puas dengan pemain lokal yang ada di PSIM. Motivasi mereka bagus, sikap mereka juga. Tetapi tentu, baik pemain lokal atau asing, masih banyak bagian dari permainan yang bisa ditingkatkan,” ujar Van Gastel, Rabu (5/8).
Menurutnya, sepak bola modern menuntut pemain mengambil keputusan dalam hitungan detik. Karena itu, pemahaman taktik dan kemampuan membaca pergerakan lawan maupun rekan setim menjadi faktor yang menentukan hasil pertandingan.
“Saya pikir penting meningkatkan aspek taktik, terutama dalam membaca permainan. Apa yang terjadi di pertandingan dan yang harus dilakukan menghadapi situasi itu. Sepak bola itu rumit karena permainan berubah dengan cepat,” katanya.
Masuknya PSIM ke BRI Super League 2026/2027 membuat tuntutan tersebut semakin besar. Van Gastel memprediksi kompetisi musim ini bakal jauh lebih sengit karena klub-klub promosi memiliki dukungan finansial yang kuat sehingga mampu merekrut pemain berkualitas.
Meski begitu, pelatih berusia 54 tahun itu memilih realistis. Target utama Laskar Mataram tetap bertahan di kasta tertinggi lebih dulu sebelum berbicara mengenai prestasi yang lebih tinggi.
“Menurut saya liga akan jauh lebih kompetitif. Tim-tim promosi punya kondisi finansial yang bagus, dan mereka bisa mengeluarkan uang untuk mendatangkan pemain,” pungkasnya.














