Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Super League

Dari Bangku Sekolah ke Tim Senior PSIM, Mimpi Daib Menjaga Gawang Garuda

5
×

Dari Bangku Sekolah ke Tim Senior PSIM, Mimpi Daib Menjaga Gawang Garuda

Sebarkan artikel ini
Athaullah Daib mendapatkan promosi ke tim utama PSIM Jogja dari akademi.

Pagi hari adalah waktunya belajar. Sore berganti menjadi waktu berlatih. Di antara dua rutinitas itu, ada perjalanan panjang yang harus ditempuh seorang remaja 16 tahun untuk mengejar mimpi.

Namanya Athaullah Daib Pratama. Ia masih duduk di kelas XI SMAN 2 Playen, Gunungkidul. Namun, di usia yang terbilang sangat muda, Daib sudah mendapatkan kesempatan berlatih bersama tim senior PSIM Jogja.

Dunia Daib kini seperti memiliki dua lapangan yang harus dijalani bersamaan: ruang kelas dan lapangan sepak bola.

Setiap pagi, ia mengenakan seragam sekolah. Setelah menyelesaikan kewajibannya sebagai pelajar, ia bergegas menuju Kota Jogja untuk bergabung dalam sesi latihan PSIM. Jarak Gunungkidul-Jogja menjadi bagian dari rutinitas yang harus ia jalani.

Bukan perkara mudah bagi seorang remaja. Tetapi Daib justru menikmati fase tersebut.

“Pertama saya mengucapkan alhamdulillah bisa masuk di tim senior di umur 16 tahun ini. Di samping itu ada kerja keras dari saya, dari seleksi EPA, lalu main di EPA, terus alhamdulillah bisa masuk ke tim senior ini,” ujar Daib, Rabu (12/8).

Mimpi Itu Tumbuh dari Perjalanan Panjang

Kesempatan bergabung dengan tim senior PSIM bukan datang secara instan.

Daib sudah mengenal sepak bola sejak usia belia. Salah satu pengalaman yang paling membekas terjadi pada 2023. Ketika itu, saat baru berusia 13 tahun, ia terpilih memperkuat tim Barati dan berangkat ke Swedia untuk mengikuti Gothia Cup.

Prosesnya pun dimulai dari seleksi di Bali.

“Sempat ke Swedia juga ikut tim Barati. Tahun 2023, umur 13 tahun. Itu seleksinya di Bali. Terus alhamdulillah saya terpilih, terus berangkat ke Swedia pada tahun 2023,” tuturnya.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu pijakan penting dalam perjalanan Daib sebagai penjaga gawang muda.

Setelah itu, ia melanjutkan proses pembinaan hingga akhirnya mendapatkan kesempatan memperkuat EPA PSIM. Dari sana, pintu menuju tim senior mulai terbuka.

Kini, tantangannya jauh berbeda.

Jika sebelumnya ia bermain bersama pemain-pemain seusianya, sekarang Daib harus berlatih bersama pemain yang sudah lebih matang secara fisik, pengalaman, maupun mental.

Namun, tidak ada rasa minder.

“Tidak ada beban, dan rasanya sangat senang. Banyak belajar juga dari senior-senior,” katanya.

Pesan Sederhana: Bermain dengan Hati

Dalam perjalanan sebagai penjaga gawang, Daib juga tidak berjalan sendirian.

Ada sejumlah pelatih yang ikut membentuk kemampuannya. Salah satu sosok yang cukup berpengaruh adalah Oni Kurniawan.

Pesan yang diberikan kepadanya sebenarnya sederhana. Tidak rumit, tetapi justru menjadi bekal mental ketika menghadapi pertandingan.

“Bermainlah pakai hati. Bermain santai saja,” kata Daib mengulang pesan dari Oni.

Kalimat itu kini menjadi semacam pengingat.

Sebab, posisi penjaga gawang memiliki tekanan tersendiri. Satu kesalahan bisa berujung gol. Satu penyelamatan bisa mengubah jalannya pertandingan.

Di usia 16 tahun, Daib sedang belajar menghadapi tekanan tersebut.

Belajar dari Van Gastel dan Capece

Kesempatan naik ke tim senior juga membuat Daib mendapatkan pengalaman baru: bekerja bersama pelatih asing.

PSIM ditangani Jean-Paul van Gastel, pelatih asal Belanda dengan pengalaman sepak bola Eropa. Sementara posisi pelatih kiper diisi Mario Capece, pelatih asal Italia yang turut merekomendasikan Daib untuk mendapatkan kesempatan bergabung dengan tim senior.

Bagi Daib, pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari proses belajarnya.

“Kalau bagi saya tentu senang bisa dilatih dengan pelatih asing yang notabene dari Eropa. Bisa membawa budaya Eropa ke Indonesia sini,” ujarnya.

Bagi seorang pemain berusia 16 tahun, setiap latihan menjadi ruang belajar.

Bukan hanya bagaimana menghentikan bola, tetapi juga bagaimana membaca permainan, berkomunikasi dengan pemain belakang, menjaga konsentrasi, hingga memahami tuntutan sepak bola profesional.

Sekolah Tetap Jalan, Sepak Bola Tak Boleh Ditinggalkan

Menjadi pemain tim senior tidak membuat Daib meninggalkan statusnya sebagai pelajar.

Pagi hari tetap menjadi milik sekolah. Sore hari menjadi waktunya latihan.

Untuk mengejar dua dunia tersebut, ia harus pintar mengatur waktu. Bahkan, perjalanan dari Gunungkidul menuju Kota Jogja menjadi bagian dari kesehariannya.

“Kalau latihannya sore, saya berangkat sekolah dulu. Habis itu saya izin di siang hari, terus langsung berangkat ke latihan,” ungkapnya.

Ada kalanya agenda PSIM berlangsung pada pagi hari. Dalam situasi tersebut, Daib harus meminta izin tidak mengikuti kegiatan sekolah.

“Ada momen tertentu saya harus izin dan nggak bisa datang ke sekolah,” katanya.

Di tengah kesibukan itu, dukungan keluarga menjadi salah satu kekuatan.

Orang tuanya tidak memberikan target muluk-muluk. Pesannya justru sederhana: jalani proses.

“Kalau orang tua pesannya kepada saya, jalani dulu aja,” ujarnya.

Satu Musim untuk Menempa Diri

Kontrak bersama tim senior PSIM berlangsung selama satu musim.

Daib menyadari dirinya masih berada di tahap awal perjalanan. Ia belum berbicara mengenai target besar untuk langsung menjadi pilihan utama.

Baginya, kesempatan berada di tim senior saja sudah menjadi pengalaman berharga.

Ia ingin menjadi pemain yang lebih baik dari hari ke hari. EPA juga masih menjadi ruang baginya untuk mendapatkan menit bermain dan terus berkembang apabila mendapat kesempatan.

Tetapi seperti kebanyakan anak muda yang memiliki mimpi besar, Daib juga menyimpan satu tujuan yang lebih tinggi.

Timnas Indonesia

“Semoga bisa menjadi lebih baik dari kemarin. Kalau target masuk timnas itu ada. Semoga bisa,” ucapnya.

Untuk sampai ke sana, perjalanan Daib masih panjang.

Hari ini ia mungkin masih harus membagi waktu antara buku pelajaran dan sarung tangan kiper. Masih harus menempuh perjalanan Gunungkidul-Jogja. Masih harus belajar dari pemain senior dan pelatih asing.

Namun, justru dari rutinitas sederhana itulah sebuah mimpi besar sedang dibangun.

Di usia 16 tahun, Daib belum sedang mencari akhir cerita. Ia baru saja memulai bab pertamanya bersama tim senior PSIM.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *