PSIM Jogja tampaknya mulai menemukan kerangka tim ideal untuk menghadapi kompetisi Super League 2026/2027. Pelatih Jean Paul van Gastel tidak melakukan perombakan besar terhadap komposisi yang musim lalu menjadi kekuatan utama Laskar Mataram.
Gambaran tersebut terlihat saat PSIM menjalani latihan bersama Bhayangkara Presisi Lampung FC di Stadion Kebo Giro, Boyolali, Sabtu (15/8). Dalam laga yang berakhir 2-2 itu, Van Gastel tetap mempertahankan sejumlah pemain yang musim lalu menjadi pilihan utama.
Sedikitnya tujuh pemain yang kerap mengisi starting XI musim lalu kembali mendapat kepercayaan sejak menit awal.
Di jantung pertahanan, Franco Ramos kembali berduet dengan Jop van der Avert. Sementara posisi bek kanan masih dipercayakan kepada Rio Hardiawan.
Komposisi lama juga terlihat di lini tengah. Ze Valente tetap menjadi salah satu pengatur permainan bersama Savio Sheva. Sedangkan di sektor sayap, Riyatno Abiyoso dan Pulga Vidal masih dipercaya sebagai pilihan pertama.
Artinya, sebagian besar kerangka utama PSIM musim lalu masih dipertahankan Van Gastel. Perubahan justru dilakukan untuk memasukkan sejumlah rekrutan anyar ke dalam struktur permainan.
Di posisi bek kiri, Yusaku Yamadera kali ini digantikan pemain anyar Ondrej Rudzan. Kemudian di sektor gelandang bertahan, wajah baru Adrian Purzycki mendapat kesempatan tampil sejak awal.
Sementara itu, posisi ujung tombak dipercayakan kepada striker anyar Adrian Dalmau.
Perubahan juga terjadi di bawah mistar. Harlan Suardi tampil sebagai penjaga gawang. Namun, posisinya kemungkinan lebih bersifat sementara karena Cahya Supriyadi masih mendapatkan waktu istirahat setelah memperkuat Timnas Indonesia.
Komposisi tersebut menunjukkan Van Gastel tidak ingin membongkar fondasi tim yang sudah terbentuk. Pelatih asal Belanda itu memilih mempertahankan koneksi antarpemain lama sembari memasukkan pemain baru secara bertahap.
Laga menghadapi Bhayangkara menjadi ujian yang cukup penting karena lawan juga merupakan kontestan Super League. Dengan demikian, PSIM bisa mengukur kesiapan taktik menghadapi tim dengan level dan karakter permainan yang relatif setara.
Van Gastel mengakui pertandingan tersebut memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai perkembangan timnya.
“Menurut saya, kami bermain cukup bagus. Taktik diterapkan sedikit berbeda karena lawan bermain di luar perkiraan kami. Terutama dalam penguasaan bola, kami tampil baik dan semangat tim untuk meraih hasil maksimal juga luar biasa,” ujar Van Gastel.
Ia menilai pertandingan melawan Bhayangkara memberikan tantangan berbeda dibandingkan dua laga uji coba sebelumnya.
“Lawan kali ini berasal dari Liga 1, sehingga unsur taktis lebih dominan dibandingkan dua laga sebelumnya yang menguras aspek fisik,” tuturnya.
Hasil imbang 2-2 pun bukan sekadar angka bagi PSIM. Pertandingan tersebut menjadi kesempatan bagi Van Gastel untuk melihat apakah kombinasi pemain lama dan wajah baru sudah mulai menemukan bentuk terbaiknya.
Jika melihat komposisi starter, PSIM tampaknya tidak sedang membangun tim dari nol. Van Gastel memilih mempertahankan kerangka lama, lalu menambahkan beberapa kepingan baru untuk memperkuatnya.
Itulah modal yang kini sedang dimatangkan Laskar Mataram sebelum benar-benar turun dalam persaingan Super League 2026/2027.














