Pelatih PSIM Jogja Jean Paul Van Gastel melihat atmosfer internal timnya tetap positif selama menjalani persiapan menuju BRI Super League 2026/2027. Meski komposisi skuad mengalami sejumlah perubahan, energi dan kebersamaan pemain dinilainya masih terjaga.
Penilaian tersebut disampaikan Van Gastel setelah PSIM menjalani rangkaian latihan pramusim selama sekitar satu bulan. Pelatih asal Belanda itu menyebut suasana di dalam skuad saat ini tidak jauh berbeda dibandingkan musim lalu.
“Suasananya bagus. Bisa dikatakan sama seperti musim lalu. Sangat positif dan pemain penuh energi,” ujar Van Gastel, Jumat (21/8).
Bagi Van Gastel, atmosfer positif menjadi modal penting sebelum PSIM memasuki persaingan kompetitif. Terlebih, skuad Laskar Mataram kini kedatangan sejumlah pemain baru yang membutuhkan proses adaptasi dengan sistem permainan maupun lingkungan tim.
Karena itu, pramusim tidak hanya dimanfaatkan untuk menguji kemampuan taktikal dan kondisi fisik pemain. Van Gastel juga menggunakan periode ini untuk melihat bagaimana hubungan antarpemain terbentuk serta bagaimana mereka merespons berbagai situasi di dalam tim.
Pelatih 53 tahun itu pun masih memberikan kesempatan kepada seluruh pemain untuk menunjukkan kemampuan masing-masing sebelum menentukan komposisi terbaik.
“Pada akhirnya saya harus membuat keputusan siapa yang bermain dan siapa yang tidak. Menarik untuk melihat bagaimana tim merespons situasi tersebut,” katanya.
Pengalaman musim lalu menjadi salah satu acuan Van Gastel. Saat harus menentukan pemain yang masuk starting eleven, ia melihat skuad mampu menjaga hubungan internal dan tetap bekerja sebagai sebuah kesatuan.
“Musim lalu sangat bagus. Kami satu tim dan semua orang menjalankan tugas dengan sangat baik. Saya berharap hal itu bisa terus berlanjut,” tuturnya.
Van Gastel menilai kemampuan menjaga kebersamaan tersebut akan menjadi semakin penting pada musim ini. Selain persaingan BRI Super League, PSIM juga akan menghadapi agenda League Cup yang membuat pemain harus siap menghadapi jadwal kompetisi yang lebih padat.
Karena itu, Van Gastel tidak ingin keberhasilan pramusim hanya diukur dari hasil pertandingan uji coba. Baginya, periode persiapan justru menjadi kesempatan untuk membangun karakter, chemistry, sekaligus kultur tim.
Dengan sejumlah wajah baru di dalam skuad, proses menyatukan karakter permainan masih menjadi pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum kompetisi resmi bergulir.
Van Gastel berharap energi positif yang sudah terbentuk selama pramusim tidak berhenti di lapangan latihan, tetapi mampu bertahan ketika PSIM mulai menghadapi tekanan dan persaingan kompetitif.
“Bagi saya, pramusim lebih kepada chemistry antarpemain, kondisi fisik, dan bagaimana kami memperlakukan satu sama lain,” tandasnya.














