Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
IndonesiaSuper League

Musim Kedua Super League Jadi Ujian Sebenarnya

1
×

Musim Kedua Super League Jadi Ujian Sebenarnya

Sebarkan artikel ini
Kebersamaan para pemain PSIM Jogja dalam laga uji coba melawan Persekabpas.

PSIM Jogja menyadari musim kedua di kasta tertinggi sepak bola Indonesia bakal menghadirkan tantangan berbeda.

Setelah berhasil melewati musim debut sebagai tim promosi, Laskar Mataram kini menghadapi ujian baru untuk membuktikan mampu bertahan dan membangun eksistensi di BRI Super League 2026/2027.

Status sebagai tim promosi sudah tidak lagi melekat pada PSIM. Kondisi tersebut membuat tekanan dan ekspektasi terhadap perjalanan Laskar Mataram musim ini ikut berubah.

Manajer tim PSIM Jogja, Iksan Mahar, bahkan menilai musim kedua bisa menjadi periode yang lebih sulit dibandingkan musim pertama.

“Orang menganggap bahwa sebenarnya musim kedua biasanya jauh lebih sulit dibanding ketika kita pegang predikat sebagai tim promosi,” kata Iksan, Jumat (21/8).

Menurut Iksan, PSIM memang memiliki sejarah panjang sebagai salah satu klub tertua di Indonesia sekaligus salah satu pendiri PSSI.

Namun, dari sisi persaingan di level tertinggi, Laskar Mataram masih tergolong pendatang baru.

PSIM baru menjalani musim kedua setelah kembali promosi ke kasta tertinggi.

Karena itu, pengalaman menghadapi kompetisi panjang dan tekanan pertandingan di level Super League masih terus dibangun.

“Kita tahu secara historis PSIM salah satu tim tertua, salah satu tim pendiri PSSI, tapi dalam proses persaingan kita juga sebenarnya masih sangat baru di Super League. Baru menjalankan musim kedua,” ujarnya.

Tak Mau Pasang Target Muluk

Berangkat dari situasi tersebut, manajemen PSIM memilih bersikap realistis.

Target utama musim 2026/2027 bukan sekadar mengejar posisi setinggi mungkin, melainkan memastikan Laskar Mataram mampu mempertahankan tempatnya di Super League dengan kondisi yang lebih nyaman.

“Target kita meskipun ambisi tentu berharap lebih baik lah. Setidaknya kita kekal dulu di Super League,” tutur Iksan.

Target bertahan bukan berarti PSIM kehilangan ambisi.

Iksan menegaskan tim tetap membuka peluang untuk membidik capaian lebih tinggi apabila perjalanan kompetisi berjalan sesuai harapan.

Namun, manajemen tidak ingin memberikan beban target yang terlalu jauh sejak awal musim.

“Bertahan dengan nyaman. Kalau seandainya bisa lebih, ya alhamdulillah,” tegasnya.

Bagi Iksan, perjalanan PSIM musim ini harus dibangun secara bertahap.

Konsistensi pertandingan demi pertandingan menjadi fondasi sebelum berbicara mengenai target yang lebih besar.

Iksan Pilih Bekerja di Balik Layar

Sebagai manajer, Iksan juga menempatkan dirinya sebagai bagian yang bekerja di balik layar untuk memastikan kebutuhan tim terpenuhi.

Fokusnya bukan menentukan seberapa tinggi PSIM harus bermimpi, tetapi membantu pemain mendapatkan kondisi terbaik untuk menjalankan tugas di lapangan.

Ia mengibaratkan perannya seperti orang di belakang panggung yang memastikan seluruh kebutuhan pertunjukan tersedia sehingga pemain dapat memberikan penampilan maksimal.

“Tupoksi saya tetap bagaimana melihat permainan, saya berusaha di belakang layar untuk menyajikan penampilan pemain di atas lapangan, yang baik, sebaik mungkin,” jelas Iksan.

Dengan demikian, PSIM memilih menghadapi musim kedua tanpa terlena oleh keberhasilan musim debut.

Bertahan dengan nyaman menjadi pijakan awal, sementara target lebih tinggi akan dikejar apabila performa tim memungkinkan.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *