PSIM Jogja memasuki musim kedua di kasta tertinggi Liga Indonesia dengan membawa bekal pengalaman dari musim sebelumnya. Manajer PSIM, Iksan Mahar, menyebut pengalaman menjalani debut di Super League menjadi modal penting untuk melakukan pembenahan secara menyeluruh.
Menurut Iksan, PSIM kini tidak lagi hanya beradaptasi dengan atmosfer kompetisi level tertinggi. Laskar Mataram mulai diarahkan untuk meningkatkan profesionalisme klub, baik dari sisi teknis maupun berbagai aspek pendukung di luar lapangan.
“Dalam menjalani musim kedua di Super League kali ini tentu PSIM juga sudah merasakan beberapa inovasi dan upaya improvement dari I.League, baik secara teknis maupun nonteknis,” ujar Iksan.
Pengalaman pada musim pertama membuat PSIM memiliki gambaran lebih jelas mengenai standar yang harus dipenuhi untuk bersaing di kompetisi kasta tertinggi.
Karena itu, pembenahan tidak hanya menyasar performa tim di lapangan. Infrastruktur, stadion, hingga berbagai fasilitas penunjang juga menjadi perhatian klub.
“Hal itu juga yang menjadi catatan bagi klub untuk terus meningkatkan diri, meningkatkan sisi profesionalisme, terutama misalnya dalam infrastruktur, stadion, dan juga segala macam penunjang itu,” katanya.
Standar Lisensi Jadi Pendorong
Iksan menyadari sejumlah standar yang diterapkan dalam lisensi klub Super League tidak selalu mudah dipenuhi. Namun, PSIM melihat regulasi tersebut sebagai bagian dari proses menuju pengelolaan klub yang semakin profesional.
“Kita tahu sebenarnya dalam hal ini meskipun bagi sebagian klub terasa berat apa yang dicanangkan oleh Super League dalam beberapa catatan terhadap lisensi klub, tapi kami menyadari bahwa itu adalah langkah yang patut diambil agar klub semakin baik, profesional, dan bisa mengejar capaian di level Asia,” lanjutnya.
Bagi PSIM, peningkatan standar klub pada akhirnya bukan sekadar memenuhi regulasi kompetisi. Ada target lebih besar yang ingin dicapai, yakni membangun fondasi klub agar mampu bersaing secara berkelanjutan.
PSIM Soroti Kualitas Wasit dan VAR
Selain persoalan profesionalisme klub, PSIM juga memberikan perhatian terhadap kualitas perangkat pertandingan. Iksan berharap kualitas sumber daya manusia wasit terus meningkat pada Super League 2026/2027.
Perbaikan juga diharapkan terjadi pada perangkat teknologi pendukung, terutama Video Assistant Referee (VAR).
“Selain itu kami juga berharap tentu perbaikan-perbaikan terutama dalam sisi wasit, secara SDM dan juga kualitas penunjang wasit seperti VAR, berharap semuanya bisa semakin baik,” tutur Iksan.
Menurutnya, kualitas pengadil pertandingan memiliki pengaruh langsung terhadap jalannya kompetisi. Keputusan wasit dalam sebuah pertandingan dapat menentukan momentum hingga hasil akhir yang diperoleh sebuah tim.
“Karena mau tidak mau harus diakui bahwa performa wasit atau para pengadil di atas lapangan bisa memengaruhi hasil di sebuah pertandingan,” sambungnya.
Bukan Hanya untuk PSIM
Iksan menegaskan bahwa berbagai pembenahan di Super League seharusnya tidak hanya dipandang dari kepentingan masing-masing klub.
Menurutnya, peningkatan kualitas kompetisi merupakan bagian dari upaya bersama untuk membawa sepak bola Indonesia menuju standar yang lebih tinggi.
“Kami berharap semakin baik dari sisi pelaksanaan di dalam maupun luar lapangan, karena kita tahu semua muaranya untuk membantu kompetisi Indonesia tidak hanya semakin baik dalam pelaksanaan dan dinikmati oleh para suporter di Tanah Air,” ucapnya.
PSIM juga berharap peningkatan kualitas kompetisi nasional dapat memberikan dampak terhadap posisi sepak bola Indonesia di level Asia, khususnya dalam persaingan koefisien kompetisi AFC.
“Harapannya untuk semakin meningkatkan kualitas kita di ranah Asia, terutama dalam ranking koefisien kompetisi di level AFC,” lanjut pria berusia 34 tahun tersebut.
Memasuki musim kedua di Super League, PSIM pun tidak hanya dituntut berbicara soal hasil pertandingan. Pengalaman musim lalu menjadi pijakan untuk membangun klub yang lebih matang, profesional, dan siap bersaing dalam jangka panjang.
Bagi Laskar Mataram, musim 2026/2027 menjadi kesempatan untuk membuktikan bahwa pengalaman di kasta tertinggi benar-benar mampu mengubah PSIM menjadi klub yang semakin siap menghadapi standar kompetisi sepak bola modern.
















