Pelatih PSIM Jogja Jean Paul Van Gastel memberi peringatan keras kepada skuadnya jelang BRI Super League 2026/2027. Tidak ada menit bermain cuma-cuma di Laskar Mataram.
Bagi pelatih asal Belanda itu, status pemain lama atau nama besar bukan jaminan. Performa dan kecocokan dengan kebutuhan tim menjadi satu-satunya pertimbangan untuk masuk susunan pemain.
Ini menjadi kelanjutan dari prinsip Van Gastel sejak menangani PSIM. Sebelumnya, ia juga sempat menyoroti menurunnya persaingan antar pemain yang membuatnya mudah menentukan starter, situasi yang justru mengkhawatirkannya.
“Profil pemain menentukan cara saya bermain. Jadi dengan pemain yang ada saat ini, situasinya juga bisa berbeda dengan musim lalu,” ujar Van Gastel, Rabu (26/8).
Di musim perdananya, Van Gastel harus bekerja dengan komposisi pemain yang sudah terbentuk. Ia dituntut menyesuaikan sistem dengan materi yang ada.
Kini, situasinya berbeda. Memasuki musim 2026/2027, Van Gastel punya ruang lebih besar untuk membangun skuad sesuai filosofinya. Ia sudah menyampaikan kebutuhan posisi secara spesifik kepada manajemen.
“Seperti yang saya katakan, saya ingin posisi tertentu dan kami mungkin bisa bermain seperti yang saya mau,” jelasnya.
Meski begitu, Van Gastel menegaskan sistem permainan tidak akan kaku. Rencana tetap ada, tapi adaptasi di lapangan menjadi kunci.
Ia mencontohkan, timnya tidak selalu harus bermain indah untuk menang. Ketika laga menuntut kerja keras dan bertahan, hal itu pun menjadi bagian dari cara meraih kemenangan.
“Kami punya rencana permainan dan coba bermain sesuai keinginan. Tapi kadang pertandingan berjalan berbeda. Misal kami tidak bermain bagus, tapi kami masih bisa berjuang dan bertahan dengan baik. Itu juga cara untuk menang,” katanya.
Pandangan itu mempertegas filosofinya: kemenangan adalah tujuan utama, namun tidak dengan mengorbankan karakter pemain demi memaksakan satu sistem.
“Kekuatan yang dimiliki pemain perlu dimaksimalkan, dan kelemahan harus diminimalkan melalui struktur permainan,” pungkasnya.
















