Papan skor Stadion Kapten I Wayan Dipta sudah menunjukkan waktu 90+6 ketika Melvyn Lorenzen akhirnya menemukan momen yang selama ini dinantikan.
Sebuah umpan silang datang ke dalam kotak penalti Bali United. Lorenzen berada di tempat yang tepat. Sundulannya menggetarkan gawang tuan rumah.
Debut yang diimpikan pemain baru PSS Sleman itu akhirnya terwujud. Tetapi ada satu persoalan: gol tersebut datang terlalu terlambat untuk mengubah nasib Super Elang Jawa.
PSS tetap harus pulang dari Gianyar dengan kekalahan 1-2.
Bagi Lorenzen, malam itu menghadirkan dua rasa sekaligus. Ada kepuasan karena mampu langsung mencatatkan nama di papan skor pada pertandingan pertamanya. Namun di sisi lain, kemenangan menjadi sesuatu yang lebih dia inginkan.
“Ya, agak campur aduk. Tentunya kami ingin lebih, saya pribadi ingin hasil yang lebih baik. Setidaknya kami bisa membawa pulang satu poin,” kata Lorenzen, Selasa (8/9).
Lorenzen memang belum menjadi pilihan utama sejak awal pertandingan. Pemain berusia 31 tahun tersebut baru mendapatkan kesempatan ketika pertandingan memasuki babak kedua.
Namun kesempatan yang diberikan tim pelatih tidak disia-siakan.
Begitu berada di lapangan, Lorenzen membawa energi berbeda ke dalam permainan PSS. Kecepatan dan keberaniannya bergerak menuju area pertahanan lawan memberikan alternatif bagi Super Elang Jawa ketika harus mengejar ketertinggalan.
Hingga akhirnya, pada penghujung pertandingan, kerja keras itu menghasilkan gol.
Bagi pemain kelahiran Inggris yang berkewarganegaraan Jerman tersebut, gol itu memiliki arti lebih dari sekadar memperkecil selisih skor.
Gol tersebut menjadi suntikan kepercayaan diri pada awal petualangannya bersama PSS.
Terlebih, Lorenzen tidak merasakan kesendirian ketika menjalani debut. Dari tribun Stadion I Wayan Dipta, dukungan Sleman Fans terus mengalir. Kehadiran mereka membuat pengalaman pertama Lorenzen bersama klub barunya terasa semakin istimewa.
“Bagus untuk diri saya sendiri bisa masuk, mencetak gol, dan mendapat respon positif dari para pendukung,” ujarnya.
Kini, Lorenzen tidak ingin terlalu lama menikmati gol pertamanya.
Satu gol sudah tercatat. Tetapi pekerjaan yang jauh lebih panjang baru dimulai.
Dia harus beradaptasi dengan karakter permainan PSS, memahami keinginan Pieter Huistra, sekaligus membuktikan bahwa dirinya bukan hanya pemain yang mampu memberikan kejutan ketika masuk dari bangku cadangan.
Kekalahan dari Bali United juga menjadi pengingat bahwa gol pribadi belum cukup.
Lorenzen membutuhkan kemenangan bersama PSS.
Karena itu, pemain yang juga berlabel Timnas Uganda tersebut memilih segera mengalihkan perhatian menuju pertandingan berikutnya. Evaluasi akan dilakukan, kekurangan diperbaiki, dan kesempatan berikutnya harus dimanfaatkan lebih baik.
“Saya harap kami bisa tampil lebih baik di pertandingan berikutnya,” tuturnya.
Gol di Gianyar mungkin belum membawa PSS pulang dengan poin.
Namun bagi Lorenzen, sundulan pada menit 90+6 itu setidaknya telah membuka pintu pertamanya bersama Super Elang Jawa.
Kini tinggal bagaimana dia mengubah momen manis tersebut menjadi awal dari kontribusi yang lebih besar untuk PSS sepanjang musim 2026/2027.
















