Beberapa pekan berada di Yogyakarta membuat Ondrej Rudzan mulai memahami bahwa kepindahannya ke PSIM Jogja bukan sekadar perpindahan klub. Bek asal Republik Ceko itu juga harus beradaptasi dengan pendekatan sepak bola yang berbeda dari pengalaman sebelumnya.
Di bawah arahan Jean Paul Van Gastel, Rudzan menemukan metode kepelatihan yang menurutnya cukup kontras dengan apa yang pernah ia rasakan selama berkarier di Eropa.
Alih-alih menganggap perbedaan tersebut sebagai hambatan, pemain 28 tahun itu justru melihatnya sebagai kesempatan untuk memperkaya pengalaman. Rudzan memilih menyerap sebanyak mungkin hal baru dari staf kepelatihan Laskar Mataram.
“Bagi saya, ada perbedaan besar antara di sini dan Eropa dibandingkan dengan apa yang saya bayangkan,” kata Rudzan, Selasa (8/9).
Adaptasi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan Rudzan bersama PSIM. Ia sadar setiap pelatih memiliki tuntutan dan cara kerja masing-masing. Karena itu, pemain bertahan tersebut tidak ingin memaksakan kebiasaannya dari klub-klub sebelumnya.
Rudzan lebih memilih memahami terlebih dahulu apa yang diinginkan Van Gastel. Setelah itu, ia berusaha menerjemahkannya ke dalam permainan di lapangan.
Baginya, kemampuan beradaptasi tidak berarti harus menghilangkan identitas sebagai pemain. Justru sebaliknya, Rudzan ingin menggabungkan tuntutan pelatih dengan karakter yang sudah menjadi bagian dari permainannya.
“Saya ingin terbuka, membuka pikiran, menjadi yang terbaik yang saya bisa, dan berkembang sesuai apa yang diinginkan pelatih dan staf kepelatihan dari saya. Tentu saya juga ingin menambahkan gaya saya sendiri,” ujarnya.
Rudzan bahkan menyebut apa yang sedang dijalaninya di PSIM sebagai pengalaman berada di “sekolah Belanda”. Filosofi tersebut menjadi sesuatu yang menarik baginya karena memberikan perspektif berbeda mengenai sepak bola.
Menariknya, proses tersebut tidak membuat Rudzan kehilangan kenikmatan dalam menjalani aktivitas bersama tim. Ia mengaku menikmati sesi latihan maupun pertandingan yang sudah dilalui bersama PSIM.
Bagi Rudzan, menikmati proses sekaligus terus belajar menjadi modal penting untuk berkembang. Ia pun tidak ingin sekadar menjadi pemain yang menjalankan instruksi secara mekanis.
Bek asal Republik Ceko itu ingin memahami alasan di balik tuntutan Van Gastel, kemudian menjadikannya bagian dari perkembangan permainannya.
“Ini adalah sekolah Belanda bagi saya. Namun, bagi saya latihan dan pertandingan sangat menyenangkan. Saya menikmati dan saya menyukai gaya pelatih,” tutur Rudzan.
Kini, proses adaptasi tersebut masih terus berjalan. Rudzan datang dengan pengalaman sepak bola Eropa, sementara Van Gastel membawa pendekatan khas Belanda. Pertemuan dua karakter itulah yang perlahan sedang dibentuk menjadi kekuatan baru PSIM sepanjang musim.
















