Memori indah PSIM Jogja di Gelora Bung Tomo (GBT) tak akan menjadi bekal Jean-Paul van Gastel. Laskar Mataram memang pernah pulang dari markas Persebaya Surabaya dengan kemenangan. Tetapi cerita itu dianggap sudah selesai.
Minggu (13/9) malam, PSIM kembali menginjak GBT untuk menjalani pertandingan tandang pertama di BRI Super League 2026/2027. Kali ini Van Gastel ingin anak asuhnya menghadapi Persebaya berdasarkan kondisi terkini, bukan bayang-bayang kemenangan musim lalu. Sebelum menentukan formula, sang pelatih masih melakukan pekerjaan rumah.
Hasil imbang 1-1 melawan Persita Tangerang pada pekan pembuka akan kembali dipelajari. Di saat yang sama, permainan Persebaya juga harus dibedah untuk mencari pendekatan paling tepat.
“Saya perlu tonton ulang pertandingannya, baru memutuskan bagaimana kami bermain dan siapa yang jadi starter. Juga, apa yang bisa kami perbaiki, dan apa yang sudah berjalan dengan baik,” kata Van Gastel, Jumat (11/9).
Van Gastel memang tidak akan mengubah identitas permainan PSIM secara total. Kerangka bermain yang dibangun sejak musim lalu tetap menjadi fondasi. Hanya saja, sang pelatih memahami bahwa setiap lawan membutuhkan detail yang berbeda.
“Kami punya cara tertentu dalam bermain, hanya saja terkadang detailnya berbeda. Jadi, saya harus melihat detail seperti apa yang perlu kami ubah,” ujarnya.
Persebaya pun tak bisa dinilai hanya berdasarkan pertemuan sebelumnya. Musim lalu, PSIM pernah membuat kejutan di GBT. Pada laga pembuka kompetisi 2025/2026, gol Ezequiel Vidal membawa Laskar Mataram menang 1-0 atas tuan rumah.
Namun kemenangan tersebut tak membuat Van Gastel terlena.
“Musim lalu kami memang menang 0-1 di laga pembuka melawan Persebaya, tetapi itu tidak berlaku sekarang. Ini pertandingan yang berbeda,” tegasnya.
Prinsip yang sama juga diterapkan terhadap Persita. PSIM datang ke musim ini setelah sebelumnya dua kali tumbang dari Persita pada musim lalu. Tetapi ketika kedua tim kembali bertemu, hasil lama tak otomatis menentukan pertandingan baru.
“Musim baru, tim berbeda, dan sebagian besar pelatih yang berbeda. Jadi, tidak bisa membandingkan pertandingan-pertandingan lalu. Kami memulai dari awal,” jelas Van Gastel.
Itulah mengapa persiapan menuju GBT tak akan dibangun dari statistik atau nostalgia.
Van Gastel ingin membaca PSIM sendiri terlebih dahulu: apa yang sudah bekerja ketika menghadapi Persita, bagian mana yang masih rapuh, lalu mencocokkannya dengan karakter permainan Persebaya.Baru setelah itu keputusan dibuat.
Termasuk siapa yang mendapat kepercayaan sebagai starter.
PSIM kini membawa satu poin dari laga pembuka. Sementara perjalanan tandang pertama musim ini langsung membawa mereka ke kandang Persebaya. Kemenangan 1-0 musim lalu memang pernah terjadi di GBT. Tetapi bagi Van Gastel, itu hanya sejarah. Minggu malam, PSIM harus menulis cerita baru.
















