Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Super League

Franco Ramos Mingo, Naik Level di PSIM

7
×

Franco Ramos Mingo, Naik Level di PSIM

Sebarkan artikel ini
Selebrasi Franco Ramos Mingo usai menjebol gawang PSBS

Musim kedua Franco Ramos Mingo bersama PSIM Jogja membawa cerita baru. Bek asal Argentina itu bukan lagi sekadar pemain asing yang beradaptasi dengan sepak bola Indonesia. Ia kini mulai diproyeksikan menjadi salah satu pemimpin utama Laskar Mataram.

Franco resmi memperpanjang kontraknya dan kembali menjadi bagian dari skuad PSIM untuk menghadapi BRI Super League 2026/2027.

Musim lalu, Franco berstatus vice kapten. Namun, perannya perlahan meningkat. Dalam beberapa pertandingan terakhir, pemain asal Argentina tersebut sudah beberapa kali dipercaya mengenakan ban kapten.

Kini, peluang Franco untuk menjadi kapten utama PSIM terbuka lebih lebar.

Kepercayaan itu bukan tanpa alasan. Franco memiliki pengalaman menjadi kapten sebelum datang ke Indonesia. Musim pertamanya bersama PSIM pun membuatnya semakin memahami karakter tim, kompetisi, hingga kehidupan di Yogyakarta.

“Bagi saya ini liga yang sangat kompetitif, banyak pemain bagus dan berpengalaman. Saya senang di sini. Orang-orangnya ramah, cuaca dan makanannya juga enak,” kata Franco, Senin (10/8).

Tak Lagi Pendatang Baru

Musim kedua membuat posisi Franco berbeda. Ia tak lagi harus memulai semuanya dari nol.

Adaptasi dengan rekan setim, lingkungan, maupun karakter pertandingan Indonesia sudah dilaluinya. Pengalaman tersebut menjadi modal penting untuk menjalani musim baru dengan tanggung jawab lebih besar.

Meski merasa nyaman, Franco tetap melihat adanya perbedaan mencolok antara sepak bola Indonesia dan Argentina.

Menurutnya, sepak bola di Argentina lebih menuntut intensitas fisik. Pemain dituntut banyak berlari dan lebih sering berhadapan dengan kontak fisik.

“Menurut saya di Argentina lebih ketat, semua orang banyak berlari, sangat banyak kontak fisik dan benturan. Jadi, saya rasa itu perbedaannya,” ujarnya.

Namun, perbedaan tersebut justru menjadi bagian dari proses adaptasinya.

Kini Franco sudah melewati fase sebagai pemain asing yang mencari pijakan. Ia memasuki fase baru sebagai pemain yang diharapkan bisa memimpin.

Ban Kapten, Bukan Sekadar Simbol

Jika musim lalu Franco belajar mengenal PSIM, musim ini ia berpotensi menjadi salah satu wajah yang merepresentasikan klub di lapangan.

Ban kapten bukan sekadar simbol. Ada tuntutan komunikasi, ketenangan, dan kemampuan menjaga karakter tim ketika pertandingan berjalan sulit.

Franco sadar betul dengan tanggung jawab tersebut.

“Tentu senang rasanya jika saya dipilih menjadi kapten dan bisa merepresentasikan tim yang saya bela,” pungkasnya.

Musim kedua Franco bukan lagi soal beradaptasi. Kini waktunya membuktikan: apakah bek Argentina itu siap menjadi komando baru Laskar Mataram?

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *