Matheus Fornazari langsung mencuri perhatian dalam laga launching PSS Sleman. Penyerang anyar asal Brasil itu mencetak gol penentu kemenangan 1-0 atas Kendal Tornado FC di Maguwoharjo International Stadium (MagIS), Sabtu (8/8).
Gol tersebut tercipta pada menit 90+3. Menerima umpan Kim Kurniawan di dalam kotak penalti, Fornazari melepaskan sepakan keras dengan kaki kanannya yang tak mampu dibendung pertahanan Kendal Tornado.
Gol itu menjadi gol perdana Fornazari bersama PSS Sleman sekaligus memberikan kemenangan pada laga uji coba pertama Super Elang Jawa menuju BRI Super League 2026/2027.
Yang menarik, Fornazari merayakan gol tersebut dengan selebrasi khas yang terinspirasi dari penyerang Swedia, Viktor Gyökeres.
Selebrasi tersebut dilakukan dengan menyilangkan jari-jari kedua tangan di depan mulut dan hidung hingga menyerupai topeng, sebelum menatap ke arah penonton.
Fornazari mengakui Gyökeres merupakan salah satu pemain yang menginspirasinya. Ia bahkan mengaku cukup sering menyaksikan permainan Gyökeres ketika masih memperkuat Sporting CP di Portugal.
Keduanya juga memiliki kesamaan sebagai pemain yang beroperasi di lini depan.
“Dia adalah pemain yang menginspirasi saya. Ketika dia bermain di Sporting, saya selalu menyaksikan pertandingannya, termasuk karena gaya bermainnya,” kata Fornazari.
Striker bertinggi 203 sentimeter itu sadar tidak mudah meniru permainan Gyökeres. Namun, untuk urusan selebrasi, ia sengaja mengadopsinya sebagai ciri khas ketika mencetak gol.
“Saya terkadang mencoba meniru gayanya, meskipun sangat sulit. Tetapi ketika mencetak gol, saya selalu melakukan selebrasi seperti itu dan merasa senang,” ujarnya.
Bukan hanya soal gol dan selebrasi, Fornazari juga mulai berbicara mengenai proses adaptasinya di Sleman.
Mantan pemain yang sebelumnya berkarier di Thailand tersebut mengaku tidak menghadapi kendala berarti. Salah satu alasannya adalah kondisi cuaca Indonesia yang menurutnya tidak jauh berbeda dengan Thailand.
“Kalau untuk saya, sudah cukup terbiasa. Bagaimanapun, hal yang paling sulit bagi pemain adalah temperatur. Saya sebelumnya bermain di Thailand dan kondisinya hampir sama. Soal makanan juga tidak ada masalah,” tutur Fornazari.
Meski begitu, pemain berpostur jangkung tersebut mengaku belum banyak mencicipi makanan khas Indonesia. Ia memilih melakukannya secara perlahan karena masih berada pada tahap awal adaptasi di Sleman.
Satu gol Fornazari akhirnya menjadi pembeda dalam pertandingan. Debutnya belum sempurna, tetapi cukup untuk mengirim sinyal pertama: PSS punya mesin gol baru.














