Permintaan maaf akhirnya disampaikan owner apparel lokal RMB, Ragil Muhammad Badai, setelah unggahannya yang memplesetkan slogan ikonik PSIM Jogja “Aku Yakin dengan Kamu” (AYDK) menjadi “AYoDeK” memicu gelombang protes dari suporter. Namun, di kalangan pendukung Laskar Mataram, permintaan maaf dinilai belum otomatis mengakhiri polemik.
Ragil menyampaikan permintaan maaf melalui surat pernyataan yang diunggah di akun Instagram pribadinya, Rabu (6/8). Dalam pernyataan tersebut, ia mengakui telah melakukan kekeliruan karena tidak memahami bahwa AYDK merupakan simbol yang memiliki nilai historis dan emosional bagi keluarga besar PSIM.
“Saya sangat menyadari bahwa unggahan tersebut tidak pantas karena AYDK bukan sekadar singkatan, melainkan memiliki makna mendalam serta nilai yang sangat sakral bagi identitas PSIM,” tulis Ragil.
Ia juga menegaskan tidak pernah memiliki niat menghina maupun menyakiti hati suporter. Ragil menyampaikan permohonan maaf kepada manajemen PSIM, Brajamusti, The Maident, dan seluruh pendukung Laskar Mataram.
Polemik ini muncul di tengah kabar RMB disebut-sebut bakal menjadi apparel resmi PSIM untuk musim 2026/2027. Meski demikian, hingga saat ini belum ada pengumuman resmi dari manajemen mengenai kerja sama tersebut.
Di sisi lain, DPP Brajamusti menegaskan persoalan ini tidak bisa dipandang sebagai candaan atau sekadar permainan kata. Presiden Brajamusti RM Satrio Wijayanto menilai AYDK adalah bagian dari identitas yang dibangun melalui sejarah panjang, loyalitas, dan perjuangan PSIM.
“Bagi kami, AYDK bukan sekadar empat huruf atau slogan. AYDK adalah anthem yang lahir dari perjalanan panjang, loyalitas, harapan, dan identitas PSIM.”
Brajamusti pun mengingatkan bahwa pihak yang ingin menjadi bagian dari PSIM harus memahami budaya dan nilai yang hidup di dalam klub. Menurut mereka, menjadi mitra resmi bukan hanya soal memproduksi jersey atau merchandise, tetapi juga menghormati simbol-simbol yang memiliki makna bagi suporter.
Gelombang kekecewaan juga datang dari pendukung PSIM secara personal. Salah seorang suporter, Andre Firmansyah, menilai tindakan owner RMB tidak etis karena dilakukan oleh sosok yang merepresentasikan sebuah merek.
Ia bahkan menyatakan tidak akan membeli jersey maupun merchandise PSIM jika RMB benar-benar menjadi apparel resmi klub musim depan.
Sementara itu, hingga berita ini ditulis, manajemen PSIM belum memberikan pernyataan resmi terkait polemik tersebut. Kini, perhatian publik tertuju pada langkah yang akan diambil manajemen, mengingat isu ini tak lagi sekadar menyangkut sebuah unggahan, melainkan menyentuh identitas dan harga diri komunitas suporter PSIM.














