Dua pertandingan uji coba melawan klub lokal menjadi pemanasan awal bagi PSIM Jogja. Kini, Laskar Mataram bersiap menaikkan level tantangan dengan menghadapi tim-tim yang memiliki kualitas lebih tinggi sebagai bagian dari persiapan menuju Super League 2026/2027.
Pelatih PSIM Jogja, Jean-Paul van Gastel, menyadari laga melawan tim lokal belum cukup untuk mengukur sejauh mana perkembangan skuadnya. Karena itu, agenda uji coba berikutnya bakal menjadi ujian yang lebih serius.
“Lawan yang dihadapi belum begitu kuat, jadi sulit untuk menilai. Mulai Minggu depan kami akan menghadapi tim-tim Liga 1 sehingga perlawanannya akan jauh lebih kuat,” ujar Van Gastel.
Dua pertandingan sebelumnya, menghadapi Beta Jaya dan UAD FC, memang lebih banyak digunakan untuk membangun fondasi fisik serta menerapkan pola permainan yang diinginkan tim pelatih.
Menurut Van Gastel, level lawan yang lebih rendah memberikan ruang bagi PSIM untuk berlatih mengembangkan skema permainan. Namun, situasi berbeda akan ditemui ketika menghadapi tim dengan kualitas yang lebih kompetitif.
“Saat ini fokus kami lebih pada bagian fisik dan cara bermain melawan lawan di level bawah agar bisa melatih skema yang diinginkan. Fisik masih harus ditingkatkan, begitu pula cara bermain kami,” jelasnya.
Pemain Asing Mulai Diuji
Rangkaian uji coba juga menjadi momentum penting bagi pemain-pemain anyar PSIM untuk beradaptasi. Tiga nama asing mendapat perhatian khusus, yakni Marvin Loria, Adrian Dalmau, dan Mauro Caballero.
Loria belum dimainkan karena baru bergabung setelah menempuh perjalanan panjang. Sementara Dalmau dan Caballero sudah mendapatkan kesempatan bermain masing-masing selama 45 menit.
“Marvin Loria datang terlambat, jadi dia baru mulai minggu ini dan belum saya turunkan karena perjalanannya masih panjang. Adrian Dalmau dan Mauro Caballero masing-masing bermain selama 45 menit,” kata Van Gastel.
Kehadiran para pemain baru tersebut menjadi bagian dari proses Van Gastel membentuk komposisi terbaik sebelum kompetisi resmi dimulai.
Keputusan Masih Jadi PR
Pada laga terakhir melawan UAD FC di Lapangan YIS, Sabtu (8/8/2026), Van Gastel masih menemukan sejumlah pekerjaan rumah.
Salah satu yang paling disorot adalah pengambilan keputusan pemain ketika berada di lapangan.
“Babak pertama kurang bagus. Menurut saya, keputusan di lapangan masih buruk. Di babak kedua, intensitas permainan lebih tinggi dan pengambilan keputusan jauh lebih baik,” ujarnya.
Perbaikan tersebut menjadi sinyal positif. Bagi Van Gastel, jumlah gol bukan menjadi ukuran utama dari pertandingan uji coba. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana PSIM mampu menjalankan karakter permainan yang sedang dibangun.
“Kami bisa mencetak lebih banyak gol, yang sebenarnya bukan poin utamanya. Cara bermain yang kami inginkan jauh lebih terlihat pada babak kedua daripada babak pertama,” tegasnya.
Dengan lawan yang lebih kuat mulai menanti, PSIM kini memasuki fase berbeda dalam pramusim. Bukan lagi sekadar mencari kemenangan, tetapi menguji apakah Laskar Mataram benar-benar siap menghadapi kerasnya Super League.














