Derby DIY akhirnya kembali hadir di kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Pertemuan PSIM Jogja dan PSS Sleman pada Super League 2026/2027 dipastikan menjadi salah satu laga paling dinanti musim ini. Namun di balik panasnya rivalitas dua tim sekota, budayawan sekaligus pemerhati sepak bola Jogja, Romo Sindhunata, mengajak seluruh suporter menjadikan derby sebagai pesta sepak bola, bukan ajang permusuhan.
Pesan tersebut disampaikan Romo Sindhunata dalam diskusi dan peluncuran buku Bola, Luka, dan Harapan serta Bola, Nasib, dan Air Mata di Omah Petroek, Sleman, Minggu (2/8).
Menurutnya, kehadiran PSIM dan PSS di kasta tertinggi justru menjadi berkah bagi sepak bola DIY. Rivalitas dianggap penting untuk membangun atmosfer kompetisi, tetapi tidak boleh berubah menjadi kebencian.
“Nanti kalau PSIM kehilangan PSS, atau PSS kehilangan PSIM, kita juga kurang semangat melihatnya. Sepak bola jadi menarik karena kita memang memihak, tidak mungkin tidak memihak. Namun, bagaimana pemihakan ini tidak menjadi segala-galanya,” ujar Romo Sindhunata.
Ia mengingatkan fanatisme yang berlebihan hanya akan merugikan klub sendiri. Bentrokan antarsuporter berpotensi memicu sanksi, mulai dari pertandingan tanpa penonton hingga pengusiran laga kandang ke luar daerah.
“Jangan sampai terjadi perkelahian atau kekerasan. Ini akan merugikan kita sendiri, merugikan sepak bola, serta kecintaan dan kesetiaan kita pada klub. Sementara pemain dan pelatih bisa pergi kapan saja,” katanya.
Romo Sindhunata juga menyoroti dampak finansial apabila klub harus menjalani hukuman bermain di luar kandang.
“Eman-eman nanti menyesal kalau fans harus melawat ke Kudus, Malang, atau luar Jawa, terlalu banyak keluar uang. Jangan sampai kedewasaan liga dan klub terganggu,” tandasnya.














