Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Super League

Sentuhan Van Gastel Belum Sempurna

11
×

Sentuhan Van Gastel Belum Sempurna

Sebarkan artikel ini
Pelatih PSIM Jogja Jean Paul van Gastel
Pelatih PSIM Jogja Jean Paul van Gastel. (Fahmi Fahriza/Radar Jogja)

Musim perdana Jean-Paul van Gastel bersama PSIM Jogja di BRI Super League 2025/2026 menghadirkan cerita yang kontras. Di satu sisi, pelatih asal Belanda itu sukses membawa Laskar Mataram bertahan sebagai tim promosi dan sempat mengejutkan dengan menembus enam besar klasemen pada putaran pertama. Namun di sisi lain, inkonsistensi performa membuat PSIM harus puas mengakhiri musim di peringkat ke-11.

Secara statistik, Van Gastel memimpin PSIM dalam 34 pertandingan dengan torehan 11 kemenangan, 12 hasil imbang, dan 11 kekalahan. Laskar Mataram mengoleksi 45 poin, mencetak 43 gol, serta kebobolan 44 gol, atau rata-rata 1,32 poin per pertandingan.

Hasil tersebut memang belum mampu membawa PSIM menembus target 10 besar. Namun, bagi klub yang baru kembali ke kasta tertinggi, pencapaian itu tetap dinilai positif karena berhasil menghindari persaingan papan bawah hingga akhir musim.

Salah satu pencapaian terbaik Van Gastel terjadi pada putaran pertama. Filosofi permainan berbasis penguasaan bola mulai terlihat, sementara keberanian membangun serangan dari lini belakang membuat PSIM beberapa kali merepotkan klub-klub papan atas. Bahkan, Van Gastel dua kali terpilih sebagai Coach of the Week pada pekan keempat dan keenam berkat performa impresif timnya.

Namun memasuki putaran kedua, grafik permainan PSIM justru menurun. Laskar Mataram sempat melalui periode sulit dengan delapan pertandingan beruntun tanpa kemenangan, terdiri atas lima kekalahan dan tiga hasil imbang. Pada fase inilah kelemahan terbesar tim mulai terlihat, yakni penyelesaian akhir yang kurang efektif meski mampu menciptakan banyak peluang.

Van Gastel sendiri beberapa kali mengakui bahwa finishing menjadi pekerjaan rumah utama timnya. Menurutnya, organisasi permainan sudah berjalan sesuai rencana, tetapi kegagalan memaksimalkan peluang membuat PSIM kehilangan banyak poin penting sepanjang musim.

Selain persoalan produktivitas, pelatih berusia 54 tahun itu juga harus menghadapi tantangan adaptasi sebagai pendatang baru di sepak bola Indonesia. Jadwal perjalanan yang panjang, kondisi lapangan yang beragam, hingga intensitas kompetisi menjadi pengalaman baru baginya selama menangani PSIM.

Meski demikian, Van Gastel tetap mampu membangun identitas permainan yang jelas. PSIM dikenal berani memainkan bola dari belakang, mengandalkan penguasaan bola, serta menerapkan pressing tinggi ketika kehilangan penguasaan. Filosofi tersebut menjadi fondasi yang kini terus dipertahankan untuk menghadapi Super League 2026/2027.

Musim lalu menjadi proses pembelajaran bagi Van Gastel maupun PSIM. Kini, dengan skuad yang lebih lengkap dan dukungan penuh manajemen di bursa transfer, tantangan berikutnya bukan sekadar bertahan di kasta tertinggi, melainkan membawa Laskar Mataram tampil lebih konsisten dan bersaing di papan atas Super League musim 2026/2027.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *