Zé Valente memiliki cerita yang cukup lengkap tentang sepak bola Yogyakarta. Gelandang asal Portugal itu pernah menjadi bagian dari PSS Sleman, kemudian kembali ke Kota Gudeg dengan membela PSIM Jogja.
Bukan hanya statistik di lapangan yang membuat perjalanan Zé Valente menarik. Selama berkarier di Indonesia, ia juga menyimpan cerita emosional bersama suporter hingga pengalaman pahit ketika rumahnya pernah dirampok pada musim pertama berada di Tanah Air.
Zé pertama kali datang ke Indonesia pada musim 2022/2023 untuk memperkuat PSS Sleman. Ketika itu, ia langsung diproyeksikan sebagai motor permainan dan pengatur serangan Super Elja.
Dalam 14 penampilan Liga 1 bersama PSS pada putaran pertama, Zé mencatat satu gol dan dua assist. Catatan tersebut sekaligus menunjukkan perannya sebagai kreator permainan.
Ia juga tampil dalam empat pertandingan Piala Presiden 2022 dengan total 272 menit dan mencetak satu gol.
Namun, kebersamaan Zé dengan PSS hanya berlangsung separuh musim. Ia kemudian pindah ke Persebaya Surabaya. Bahkan, saat menghadapi mantan klubnya, Zé tampil luar biasa dengan mencetak dua gol dan satu assist dalam kemenangan Persebaya 4-2 atas PSS.
Tiga tahun kemudian, Zé kembali ke Yogyakarta. Kali ini ia tidak memakai jersey hijau PSS, melainkan biru PSIM.
Dari Kreator Menjadi Mesin Gol
Bersama PSIM, peran Zé berkembang. Ia tidak hanya menjadi pengatur serangan, tetapi juga lebih produktif dalam mencetak gol.
Dalam catatan musim 2025/2026 yang digunakan dalam rekap sebelumnya, Zé tampil 32 pertandingan, mencetak 10 gol dan empat assist. Artinya, ia terlibat langsung dalam 14 gol PSIM melalui gol dan assist.
Perbandingan tersebut menunjukkan peningkatan produktivitas yang mencolok.
PSS Sleman 2022/2023
14 laga | 1 gol | 2 assist
PSIM Jogja 2025/2026
32 laga | 10 gol | 4 assist
Jika hanya melihat angka gol, produktivitas Zé meningkat berkali-kali lipat ketika kembali ke Yogyakarta.
Namun, ada sisi lain dari hubungan Zé dengan sepak bola Jogja yang tidak bisa dihitung melalui statistik.
Suporter Jadi Kenangan Terindah
Zé mengaku hubungan dengan suporter justru menjadi pengalaman paling berkesan selama berkarier di Indonesia.
Menariknya, kenangan tersebut sudah muncul sejak ia pertama kali tiba di Indonesia dan memperkuat PSS.
“Koneksi terkuat yang saya rasakan di Indonesia adalah dengan para penggemar, terutama saat kali pertama saya datang. Itu terjadi di Sleman, klub pertama saya di sini. Sampai saat ini bersama suporter PSIM juga sangat bagus.”
Bagi Zé, dukungan suporter bukan hanya terasa ketika pertandingan berlangsung. Interaksi dengan pendukung juga membantunya beradaptasi dengan lingkungan dan budaya baru.
Ia bahkan menyebut berbagi momen bersama suporter sebagai pengalaman terindah selama menjalani karier sepak bola di Indonesia.
“Saya punya kenangan luar biasa bersama mereka. Momen terindah yang saya rasakan di sepak bola Indonesia adalah berbagi dengan para suporter.”
Dari PSS hingga PSIM, kedekatan itu rupanya tetap terbawa.
Pernah Mengalami Masa Kelam
Namun, perjalanan Zé di Indonesia tidak selalu indah.
Pada musim pertamanya di Tanah Air, rumahnya pernah menjadi sasaran perampokan. Peristiwa tersebut menjadi pengalaman paling buruk yang dialaminya selama berada di Indonesia.
“Momen terburuk saya di Indonesia adalah ketika rumah saya dirampok di musim pertama saya di sini.”
Kejadian tersebut cukup membekas bagi Zé dan keluarganya. Apalagi, ia datang dengan pandangan bahwa Indonesia merupakan negara yang aman dengan masyarakat yang ramah.
“Situasi itu sulit saya terima karena saya tahu Indonesia adalah negara yang tenang, orang-orangnya sangat baik. Saya tidak menyangka hal itu akan terjadi pada saya.”
Meski demikian, pengalaman tersebut tidak membuat pandangannya terhadap Indonesia berubah. Kasus itu akhirnya dapat diselesaikan dan Zé memilih menjadikannya sebagai bagian dari perjalanan hidup.
“Untungnya kami menemukan orangnya dan semuanya bisa diperbaiki. Jadi kalau di sepak bola, momen buruk itu hal yang normal. Tapi yang ini lebih ke pengalaman pribadi.”
Kini, Zé kembali menjadi bagian dari cerita sepak bola Jogja. Bedanya, ia datang dengan pengalaman yang jauh lebih panjang.
Dari PSS ke PSIM, dari kreator menjadi pencetak gol, dari kenangan manis bersama suporter hingga pengalaman pahit di luar lapangan. Zé Valente punya cerita yang membuat namanya tidak sekadar tercatat sebagai pemain asing yang pernah membela dua klub DIY.














