Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
BeritaSuper League

Presiden Brajamusti RM Satrio Wijayanto Perkuat Jargon Mataram Is Love, Kemanusiaan Jadi Prioritas

24
×

Presiden Brajamusti RM Satrio Wijayanto Perkuat Jargon Mataram Is Love, Kemanusiaan Jadi Prioritas

Sebarkan artikel ini
Presiden Brajamusti, RM Satrio Wijayanto. (Foto: Istimewa)

mainbola.co – Presiden Brajamusti terpilih, RM Satrio Wijayanto, langsung bergerak cepat usai dipercaya memimpin kelompok suporter PSIM Yogyakarta. Menyambut kompetisi musim 2026/2027, pria yang akrab disapa Dodok itu menegaskan komitmennya untuk terus menjaga kondusivitas sepak bola di tanah Mataram.

Dodok memastikan jargon Mataram Is Love akan terus digaungkan demi menjaga situasi yang aman, nyaman, dan harmonis di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Menurutnya, menjaga komunikasi dan kerukunan antarsuporter bukan sekadar agenda sesaat, melainkan harus menjadi budaya yang terus dirawat.

Karena itu, pihaknya akan menginstruksikan seluruh anggota Brajamusti di tingkat akar rumput agar aktif membangun komunikasi dengan berbagai komunitas suporter lain, termasuk pendukung PSS Sleman.

BACA JUGA: Liana Tasno Murka Korupsi Mandala Krida, PSIM Terpaksa Siapkan Skenario Bertahan di SSA

“Kalau untuk ke depannya terkait islah itu, saya akan tetap selalu menjaga di laskar-laskar seluruh wilayah DIY untuk menjalin komunikasi dengan setiap komunitas-komunitas di luar suporter PSIM,” beber Dodok, Senin (29/6/2026).

Menurut Dodok, upaya memperkuat hubungan antarsuporter tidak hanya difokuskan di kawasan perkotaan. Gerakan tersebut akan menjangkau seluruh wilayah DIY.

Ia menyebut langkah tersebut akan dilakukan di Sleman, Bantul, Gunungkidul, hingga Kulon Progo. Bahkan, komunikasi juga akan dibangun dengan basis massa Brajamusti yang berada di luar DIY.

“Semuanya, seluruh wilayah DIY dan di luar DIY juga,” ujarnya.

BACA JUGA: Resmi Berpisah dengan PSIM Jogja, Donny Warmerdam Pulang ke Belanda dan Gabung De Graafschap

Dodok menegaskan, dukungan terhadap klub sepak bola tidak boleh mengesampingkan nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.

Baginya, rivalitas hanya berlangsung selama 90 menit di lapangan. Setelah pertandingan berakhir, seluruh suporter tetap harus mengedepankan rasa persaudaraan.

Karena itu, ia berharap semangat tersebut dapat tertanam kuat dalam diri seluruh anggota Brajamusti menjelang bergulirnya musim baru.

“Harapan saya dari teman-teman itu, selalu mengedepankan dalam mendukung sebuah tim, rasa kemanusiaan ada di atas segalanya,” tandasnya.

Example 120x600

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *