PSIM Jogja terus berupaya memperkuat hubungan dengan suporternya memasuki musim kedua di kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Manajemen Laskar Mataram kini lebih aktif menggaet dan mengajak suporter berdiskusi langsung.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari evaluasi sekaligus upaya membangun komunikasi yang lebih terbuka antara klub dan kelompok suporter.
Manajer PSIM Jogja, Iksan Mahar, mengatakan komunikasi dengan suporter dalam sebulan terakhir mulai lebih intensif. Setidaknya sudah dua kali pertemuan digelar untuk membahas berbagai hal terkait klub.
“Setidaknya, dalam sebulan ini sudah dua kali kumpul sama suporter. Diskusi dan sudah ngobrol dengan suporter,” kata Iksan, Senin (24/8).
Menariknya, manajemen PSIM tidak hanya menunggu suporter datang. Iksan menyebut pihak klub mulai mengambil langkah jemput bola, termasuk mengundang perwakilan suporter untuk berdiskusi menjelang agenda launching tim.
“Jadi memang kita akan coba aktif berkomunikasi. Termasuk yang mau launching, kita yang jemput bola. Kita yang ajak, undang teman-teman suporter buat ngobrol,” ujarnya.
PSIM Ingin Komunikasi Tak Sekadar di Tribun
Bagi PSIM, suporter merupakan bagian penting dalam perjalanan klub. Karena itu, komunikasi diupayakan tidak hanya terjadi ketika pertandingan berlangsung, tetapi juga melalui forum diskusi di luar lapangan.
Iksan membuka kemungkinan pertemuan kembali digelar ketika kompetisi memasuki jeda. Salah satu momentum yang diharapkan bisa dimanfaatkan adalah periode Januari ketika agenda pertandingan relatif lebih longgar.
“Semoga kalau nanti sudah ada waktu, ya syukur-syukur misalkan di Januari ketika banyak libur atau matchday, kita bisa update lagi,” katanya.
Meski begitu, komunikasi terbuka tersebut tetap memiliki batas. Iksan berharap informasi yang disampaikan dalam forum internal bersama suporter dapat dijaga sebelum klub mengumumkannya secara resmi.
“Cuma memang kita pengin beberapa itu di ranah suporter. Karena gini, ada kekhawatiran apa yang kita bicarakan di ranah privat itu keluar ke publik. Nah, itu yang tidak kita mau sebenarnya,” ucapnya.
Kepercayaan Jadi Kunci
Menurut Iksan, hubungan antara manajemen dan suporter membutuhkan kepercayaan dari kedua pihak. Manajemen berusaha membuka akses informasi, sementara suporter juga diharapkan mampu menjaga informasi yang memang belum waktunya dipublikasikan.
“Saya di manajemen coba membuka diri. Teman-teman butuh info apa kita kasih, dengan harapan teman-teman juga bisa menjaga kepercayaan itu dan tidak menyebar ke mana-mana,” tutur Iksan.
















