Pelatih PSIM Jogja Jean Paul Van Gastel mendapat pengalaman berkesan ketika bertemu langsung dengan Gubernur DIJ sekaligus Sultan Hamengku Buwono X di Kompleks Kepatihan, Kamis (27/8).
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari agenda manajemen PSIM untuk sowan sekaligus memohon doa dan restu menjelang bergulirnya BRI Super League 2026/2027. Van Gastel diperkenalkan kepada Sultan bersama jajaran manajemen Laskar Mataram.
Meski tidak banyak terlibat dalam pembicaraan karena mayoritas percakapan menggunakan bahasa Indonesia, Van Gastel tetap menikmati momen tersebut. Baginya, pertemuan dengan sosok yang memiliki keterkaitan erat dengan sejarah Jogja memberikan pengalaman tersendiri.
“Menurut saya itu sangat bagus karena merupakan bagian dari budaya. Hal ini juga merupakan bagian dari sejarah,” kata Van Gastel.
Ketertarikan Van Gastel terhadap sosok Sultan semakin besar setelah mengetahui latar belakang keluarga Keraton dan hubungan sejarahnya dengan PSIM. Ia mendapat informasi mengenai peran ayah Sultan HB X, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, dalam sejarah PSIM.
“Saya sangat menyukai sejarah. Dan saya mendengar bahwa ayah beliau juga punya sejarah panjang dengan tim PSIM ini,” ujarnya.
Pengetahuan tersebut membuat pertemuan dengan Sultan menjadi lebih bermakna bagi Van Gastel. Ia tidak melihat sosok HB X semata dari perspektif sepak bola, tetapi juga sebagai bagian dari sejarah panjang Jogja dan PSIM.
“Itu sejarah yang saya sukai. Dan kalau Anda bisa bertemu dengan salah satu tokoh seperti itu, tentu merupakan sebuah kehormatan,” tutur mantan pelatih Besiktas tersebut.
Van Gastel bahkan mengaku lebih banyak menjadi pendengar selama pertemuan berlangsung. Ia menyadari keterbatasan bahasa membuat dirinya tidak terlalu banyak berbicara dalam agenda tersebut.
“Tidak cukup banyak yang saya bahas, karena pembicaraannya menggunakan bahasa Indonesia. Jadi, saya hanya menjadi penonton,” katanya sembari bergurau.
Pertemuan dengan Sultan menjadi pengalaman kultural kedua Van Gastel dalam dua hari beruntun. Sehari sebelumnya, ia mengikuti tradisi PSIM berziarah ke makam raja-raja Mataram dengan mengenakan busana Peranakan.
Rangkaian pengalaman tersebut membuat Van Gastel semakin memahami bahwa PSIM bukan sekadar klub sepak bola. Di balik persiapan menuju musim baru, terdapat sejarah dan identitas budaya yang ikut membentuk perjalanan Laskar Mataram.
Bagi Van Gastel, proses memahami aspek tersebut menjadi bagian dari perjalanannya memasuki musim kedua bersama PSIM di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
















