PSS Sleman mendapat keuntungan dari rangkaian dua pertandingan awal Super League 2026/2027. Setelah membuka kompetisi dengan lawatan ke markas Bali United pada 4 September 2026, Super Elja langsung kembali ke kandang untuk menghadapi Madura United pada Sabtu (12/9).
Komposisi jadwal tersebut dinilai cukup ideal karena PSS tidak harus menjalani dua laga tandang beruntun di awal kompetisi. Setelah menguras tenaga di Pulau Dewata, skuad Laskar Sembada memiliki kesempatan memulihkan kondisi sebelum melakoni pertandingan kandang perdana di Maguwoharjo International Stadium (MagIS).
Pelatih PSS Sleman Pieter Huistra menyambut positif kepastian jadwal yang telah dirilis I.League. Menurutnya, rangkaian pertandingan awal tersebut memberikan gambaran yang cukup baik bagi tim untuk memulai kompetisi.
“Ya, tentu selalu ada banyak pandangan atau pendapat soal jadwal pertandingan. Tapi menurut saya pribadi, ini awal yang cukup bagus untuk kami. Mengawali musim dengan laga tandang ke Bali, kemudian kembali ke kandang untuk menghadapi Madura,” katanya, Senin (17/8).
Laga kontra Bali United memang menjadi ujian berat bagi PSS. Namun, pertandingan tersebut juga bisa menjadi kesempatan bagi Huistra untuk langsung mengukur kesiapan tim setelah menjalani rangkaian pramusim.
Yang menarik, PSS kemudian memiliki waktu sekitar sepekan sebelum menghadapi Madura United. Jeda tersebut dapat dimanfaatkan untuk melakukan evaluasi, memulihkan kebugaran pemain, sekaligus memperbaiki kekurangan yang muncul pada pertandingan pertama.
Kondisi itu membuat Huistra memiliki ruang yang lebih leluasa dalam menyiapkan tim. Apalagi kepastian jadwal kini membuat program latihan dan analisis calon lawan bisa disusun secara lebih terukur.
“Selalu menyenangkan ketika kami sudah memegang jadwal resmi. Dari sini kami bisa langsung fokus melakukan persiapan tim dan mulai menganalisis peta kekuatan tim-tim lawan,” cetusnya.
Huistra juga tidak melihat status laga tandang ke Bali sebagai sesuatu yang harus dikhawatirkan. Sebaliknya, pertandingan tersebut menjadi momentum bagi PSS untuk langsung mengetahui sejauh mana perkembangan tim ketika menghadapi lawan dengan level kompetisi yang sama.
Setelah itu, keuntungan lain menanti. Bermain di kandang pada pertandingan kedua membuat PSS berpeluang mendapatkan dukungan langsung suporter sekaligus menghindari perjalanan panjang dalam dua pertandingan pertama.
“Ya, saya kira itu memang menjadi laga pembuka yang sebenarnya bagi kami. Tapi kami tampil di pertandingan kedua pada hari tersebut. Karena ada pertandingan lain yang dimainkan sore hari, sementara kami baru berlaga pada malam harinya,” jelas Huistra.
Dengan demikian, dua laga pertama PSS bisa menjadi paket pengujian sekaligus keuntungan. Bali United menjadi ujian awal di kandang lawan, sedangkan Madura United menjadi kesempatan Super Elja mengamankan hasil di hadapan publik sendiri.
Kini Huistra tinggal memastikan timnya benar-benar siap memanfaatkan momentum tersebut. Persiapan fisik, pematangan taktik, recovery, hingga analisis kekuatan Bali United dan Madura United menjadi pekerjaan utama sebelum kompetisi dimulai. (ayu)














