Malam di Gianyar berakhir tanpa poin untuk PSS Sleman. Namun bagi Pieter Huistra, perjalanan Super Elang Jawa pada BRI Super League 2026/2027 baru saja dimulai.
Skor 1-2 dari Bali United memang bukan hasil yang diinginkan. Tetapi Huistra tidak melihat pertandingan tersebut sebagai gambaran akhir mengenai kekuatan timnya.
Justru sebaliknya.
Ada banyak hal yang dibawa pulang PSS dari Stadion Kapten I Wayan Dipta. Bukan hanya kekalahan, melainkan juga sejumlah catatan yang bisa digunakan untuk membentuk tim menjadi lebih matang dalam pertandingan-pertandingan berikutnya.
Huistra pun tidak ingin berlama-lama memikirkan hasil akhir. Perhatiannya segera diarahkan kepada bagian permainan yang masih bisa diperbaiki.
“Kami bisa menjadi lebih baik dalam pertahanan. Lebih baik dalam serangan. Kami bisa menciptakan kesempatan yang lebih baik,” kata Huistra, Senin (7/9).
Ucapan tersebut memperlihatkan cara Huistra membaca pertandingan pertama PSS. Baginya, hasil di Gianyar bukan alasan untuk mengubah semuanya secara drastis. Ada fondasi yang bisa dipertahankan, tetapi detail-detail kecil harus segera diperbaiki.
Lini belakang menjadi salah satu perhatian. Begitu pula dengan cara PSS mengembangkan serangan hingga menghasilkan peluang yang benar-benar berbahaya.
Sebab menciptakan peluang saja belum cukup.
Peluang harus datang dari situasi yang lebih matang dan kemudian diselesaikan dengan lebih efektif.
Di luar dua area tersebut, Huistra juga mulai menyoroti bagian permainan yang sering kali menentukan hasil pertandingan tanpa terlalu banyak mendapat sorotan, yakni bola mati.
Situasi seperti sepak pojok, tendangan bebas, maupun antisipasi terhadap skema lawan membutuhkan ketepatan posisi dan komunikasi. Kesalahan kecil dalam situasi seperti ini dapat mengubah jalannya pertandingan.
“Pastikan kami memiliki sudut yang baik. Menyelamatkan mereka juga. Kami selalu bisa meningkatkan,” ujarnya.
Karena itu, kekalahan dari Bali United tidak membuat Huistra melihat perjalanan PSS dengan nada pesimistis.
Sebaliknya, pertandingan pertama justru menjadi semacam cermin. Dari sana, dia bisa melihat bagian mana yang sudah berjalan dan bagian mana yang masih membutuhkan pekerjaan lebih panjang.
Musim masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan.
PSS masih memiliki banyak pertandingan di depan. Setiap laga akan membawa persoalan berbeda dan memaksa tim menemukan jawaban baru.
Bagi Huistra, proses itulah yang membuat sepak bola tidak pernah benar-benar selesai.
“Itu hal yang bagus tentang sepak bola. Kami tidak pernah selesai. Kami selalu bisa menjadi lebih baik,” tegasnya.
Kini pekerjaan PSS bukan menghapus kekalahan dari Bali United, melainkan memastikan pelajaran dari Gianyar tidak terbuang percuma.
Sebab pertandingan pertama sudah memberikan satu pesan kepada Super Elang Jawa: perjalanan masih panjang, dan ruang untuk berkembang masih terbuka lebar.
















