Winger anyar PSIM Jogja, Marvin Loria, mulai memahami besarnya arti Laskar Mataram setelah sekitar satu pekan berada di Indonesia.
Sebelum bergabung dengan PSIM, pemain asal Kosta Rika tersebut mengaku hanya mengetahui nama klub yang bermarkas di Kota Jogja itu. Pengetahuannya mengenai sepak bola Indonesia juga masih terbatas.
Namun, situasi berubah setelah Loria tiba di Jogja dan mengikuti latihan bersama skuad PSIM. Ia mulai merasakan langsung atmosfer klub sekaligus mengenal karakter para pemain yang akan menjadi rekan setimnya sepanjang musim 2026/2027.
“Saya hanya pernah mendengar tentang mereka. Saya tidak tahu terlalu banyak. Tetapi yang pasti, mereka adalah klub besar di sini, di Indonesia,” kata Loria, Rabu (12/8).
Loria sebelumnya sempat mencari informasi mengenai PSIM sebelum memutuskan menerima tantangan berkarier di Indonesia. Ia juga melihat sejumlah cuplikan pertandingan dan aksi pemain Indonesia untuk mendapatkan gambaran mengenai kompetisi yang akan dihadapinya.
Dari pengamatan tersebut, pemain berusia 29 tahun itu memiliki kesan positif terhadap kualitas pemain lokal.
Menurut Loria, pemain Indonesia mempunyai kondisi fisik yang bagus serta kecepatan yang bisa menjadi kekuatan ketika menghadapi lawan.
“Sebelum saya datang, saya melihat beberapa cuplikan dan beberapa pemain dari sini. Itu yang menjadi gambaran saya. Mereka benar-benar pemain yang bagus,” ujarnya.
Mulai Mengenal PSIM dari Dalam
Setelah menjalani latihan bersama PSIM, Loria kini tidak lagi sekadar mengenal PSIM dari nama atau cuplikan pertandingan.
Ia mulai memahami bagaimana suasana di dalam tim dan merasakan langsung hubungan antarpemain.
Adaptasi tersebut menjadi hal penting bagi Loria karena PSIM merupakan klub Asia pertama dalam perjalanan kariernya.
Sebelumnya, pemain kelahiran 24 April 1997 itu lebih banyak menjalani karier di Kosta Rika dan Amerika Serikat. Ia bahkan pernah memperkuat Portland Timbers yang berkompetisi di Major League Soccer (MLS).
Perpindahan ke Indonesia membuat Loria harus beradaptasi dengan lingkungan baru, gaya sepak bola berbeda, serta kehidupan di luar lapangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Meski demikian, proses tersebut sejauh ini berjalan positif.
Loria menyebut sambutan para pemain PSIM membuatnya merasa nyaman. Ia bahkan menggambarkan skuad Laskar Mataram sebagai sebuah keluarga.
“Semua rekan setim saya adalah orang-orang baik dan menyenangkan. Saya merasa sangat nyaman di sini. Kami adalah keluarga dan kami berusaha berjuang untuk semuanya,” tutur Loria.
Kenyamanan tersebut menjadi modal awal bagi Loria untuk menjalani persiapan bersama PSIM menjelang Super League 2026/2027.
Kehadirannya juga menambah opsi di sektor sayap bagi pelatih Jean-Paul van Gastel. Pengalaman bermain di beberapa posisi ofensif membuat Loria diproyeksikan menjadi salah satu bagian dari variasi serangan PSIM.
Kini, tantangan berikutnya adalah menerjemahkan proses adaptasi tersebut ke dalam permainan.
Setelah mulai mengenal PSIM dari dekat, Loria harus membangun chemistry dengan pemain lain dan memahami skema permainan Van Gastel sebelum kompetisi resmi dimulai.
Bagi Loria, perjalanan di Indonesia baru dimulai. Dari yang awalnya hanya tahu nama PSIM, kini ia mulai merasakan langsung atmosfer Laskar Mataram dari dalam tim.














