Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
IndonesiaSuper League

PSIM Jogja Menang 2-0 atas Deltras, Identitas Van Gastel Masih Kental

10
×

PSIM Jogja Menang 2-0 atas Deltras, Identitas Van Gastel Masih Kental

Sebarkan artikel ini
Selebrasi para pemain PSIM Jogja dalam kemenangan atas Deltras FC.

PSIM Jogja memang berhasil mengalahkan Deltras Sidoarjo dengan skor 2-0 dalam laga uji coba di Stadion Sultan Agung (SSA), Bantul, Sabtu (29/8). Namun, kemenangan tersebut bukan sekadar tentang hasil akhir.

Pertandingan yang menjadi bagian dari launching tim dan jersey PSIM untuk BRI Super League 2026/2027 itu justru memperlihatkan satu hal penting: Jean Paul van Gastel belum mengubah identitas permainan Laskar Mataram secara drastis.

Dengan sejumlah pemain baru di dalam skuad, PSIM masih mempertahankan karakter permainan yang dibangun Van Gastel sejak musim lalu. Penguasaan bola, operan pendek, pergerakan tanpa bola, serta upaya membangun serangan dari lini belakang tetap menjadi fondasi permainan.

Van Gastel tampaknya memilih memperkuat sistem yang sudah ada ketimbang melakukan perubahan besar menjelang musim baru.

Ball Possession Masih Jadi Identitas

Sepanjang pertandingan, PSIM tetap berusaha mengontrol permainan melalui penguasaan bola. Sirkulasi dilakukan dari kaki ke kaki dengan tempo yang relatif cepat.

Pemain tidak dibiarkan terlalu lama menguasai bola. Ketika satu pemain menerima operan, pemain lain bergerak untuk menciptakan opsi umpan berikutnya.

Pola tersebut menjadi salah satu ciri permainan PSIM di bawah Van Gastel.

Laskar Mataram juga tidak terburu-buru mengandalkan bola panjang ke lini depan. Serangan dibangun secara bertahap dari belakang dengan tujuan mempertahankan kontrol permainan.

Artinya, kehadiran sejumlah pemain anyar belum mengubah wajah utama PSIM. Van Gastel masih mempercayai prinsip permainan yang sama.

Perbedaannya, kini pelatih asal Belanda tersebut memiliki karakter pemain yang berbeda untuk menjalankan sistem tersebut.

Bola Mati Jadi Bumbu Baru

Salah satu hal menarik dari kemenangan atas Deltras adalah cara PSIM membuka keunggulan.

Gol pertama Laskar Mataram lahir melalui skema bola mati yang menunjukkan adanya variasi dalam eksekusi.

Dari situasi tendangan bebas sekitar 18 meter, Ze Valente tidak memilih mengeksekusi bola secara langsung. Ia justru melepaskan cungkilan rendah melewati pagar pemain Deltras.

Bola kemudian diterima Ezequiel Vidal yang langsung menyambarnya dengan tendangan voli.

Gol tersebut memperlihatkan bahwa situasi set piece menjadi salah satu senjata yang terus dipertahankan PSIM.

Skema seperti itu bukan sekadar mengandalkan keberuntungan. Variasi tendangan bebas memang membutuhkan koordinasi dan latihan agar setiap pemain memahami perannya.

Van Gastel pun kini memiliki alternatif tambahan untuk membongkar pertahanan lawan ketika serangan terbuka mengalami kebuntuan.

Tiga Pemain Baru Langsung Jadi Starter

Laga melawan Deltras juga menjadi kesempatan bagi beberapa pemain anyar untuk menunjukkan kualitasnya.

Ondrej Rudzan menjadi salah satu pemain baru yang cukup mencuri perhatian. Pemain asal Ceko tersebut menempati posisi fullback kiri dan menunjukkan karakter agresif ketika membantu serangan.

Rudzan tidak hanya bertahan di area belakang. Ia aktif melakukan overlap maupun underlap dan terus bergerak mengikuti perkembangan serangan PSIM.

Mobilitas tersebut membuatnya bisa menjadi opsi menarik dalam sistem permainan Van Gastel yang membutuhkan fullback aktif.

Sementara itu, Adrian Purczycki memberikan keseimbangan di lini tengah. Gelandang asal Polandia tersebut terlihat cukup nyaman menerima bola di area tengah ketika mendapat tekanan.

Kemampuan menjaga penguasaan bola dan keberaniannya menghadapi pressing menjadi modal penting. Ia juga memberikan perlindungan bagi pemain lain yang mendapat keleluasaan untuk bergerak lebih jauh ke depan.

Peran seperti itu sesuai dengan kebutuhan Van Gastel terhadap gelandang yang mampu menjaga keseimbangan tim.

Di lini depan, Adrian Dalmau menunjukkan etos kerja tinggi. Striker asal Spanyol tersebut tidak hanya menunggu suplai bola di kotak penalti.

Dalmau beberapa kali turun menjemput bola dan terlibat dalam proses build-up. Pergerakannya membuat lini depan PSIM lebih dinamis.

Meski demikian, penyelesaian akhir Dalmau masih menjadi bagian yang perlu dipoles. Beberapa peluang belum mampu dikonversi dengan ketenangan maksimal.

Namun, mengingat laga tersebut masih berada dalam rangkaian pramusim, performa Dalmau belum layak dijadikan kesimpulan akhir.

Loria dan Caballero Masih Beradaptasi

Van Gastel juga memberikan kesempatan kepada beberapa pemain baru dari bangku cadangan.

Marvin Loria dan Mauro Caballero masuk pada babak kedua bersama Alwi Fadilah.

Keduanya belum terlalu banyak memperlihatkan perbedaan signifikan dalam waktu bermain yang tersedia. Namun, hal tersebut juga tidak serta-merta menunjukkan mereka gagal memberikan dampak.

Loria dan Caballero masih harus beradaptasi dengan lingkungan baru, termasuk cuaca Yogyakarta, intensitas permainan, serta koneksi dengan rekan-rekan setim.

Proses tersebut membutuhkan waktu, terlebih keduanya baru bergabung dengan skuad PSIM.

Tugas Van Gastel: Bukan Membuat Identitas Baru

Kemenangan 2-0 atas Deltras akhirnya memberikan gambaran awal mengenai arah PSIM menghadapi BRI Super League 2026/2027.

Van Gastel tampaknya tidak memiliki agenda untuk membongkar total sistem yang sudah dibangun musim sebelumnya.

Fondasi permainan tetap berada pada penguasaan bola, operan pendek, pergerakan pemain, kontrol tempo, dan pembangunan serangan dari belakang.

Kini tantangannya adalah membuat sistem tersebut menjadi lebih efektif dengan materi pemain yang berbeda.

Rudzan menawarkan energi di sisi kiri. Purczycki memberikan keseimbangan di lini tengah. Dalmau membawa mobilitas di lini depan, sementara Loria dan Caballero masih memiliki waktu untuk menemukan bentuk terbaiknya.

Di sisi lain, variasi set piece juga berpotensi menjadi senjata tambahan.

Karena itu, kemenangan atas Deltras sebaiknya tidak dijadikan ukuran mutlak kekuatan PSIM. Ini masih laga pramusim dan masih ada banyak aspek yang harus diuji sebelum kompetisi resmi dimulai.

Namun, satu kesimpulan awal sudah terlihat: PSIM musim baru mungkin menghadirkan pemain-pemain baru, tetapi identitas permainan Van Gastel masih tetap sama.

Kini pekerjaan rumahnya bukan mencari wajah baru, melainkan membuat identitas lama tersebut bekerja lebih efektif ketika PSIM memasuki persaingan kasta tertinggi sepak bola Indonesia.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *